Penilaian Otentik pada Kurikulum 2013 | Bagian 1

| 15 April 2016

Penilaian otentik merupakan model evaluasi yang diterapkan pada kurikulum 2013. Inti dari penilaian ini adalah mengukur semua kompetensi, baik sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil. Penilaian otentik merupakan perbaikan dari penilaian berbasis kompetensi yang mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil tes saja. Dengan demikian, penilaian dengan model ini dapat memperkuat PAP atau Penilaian Acuan Patokan  dan mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama penilaian.

Penilaian Otentik versus Penilaian Tradisional 

Sebagai sebuah model yang baru, penilaian otentik tentu saja berbeda dengan penilaian tradisional. Penilaian otentik berciri realistis atau sesuai dengan kenyataan dan memerlukan bukti langsung penerapan pengetahuan dan keterampilan. Sebaliknya, penilaian tradisional bercirikan sangat berkonteks sekolah seperti mengisi titik-titik, jawaban singkat, kuis, memilih jawaban, dan lain sebagainya. Gambar di bawah menerangkan lebih rinci perbedaan antara keduanya.

Perbedaan Antara Penilaian Otentik dengan Penilaian Tradisional


Tugas Otentik

Tugas otentik adalah sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dari konsep penilaian otentik secara keseluruhan. Dalam tugas otentik, tugas merupakan tantangan yang ada atau yang mirip dalam dunia nyata. Tugas juga tidak hanya memiliki satu jawaban yang benar. Dengan demikian, siswa atau peserta didik dapat membangun (construct) respons sendiri dan tidak sekedar memilih jawaban yang tersedia. Berikut adalah contoh-contoh tugas otentik: 
  • Pemecahan masalah matematik
  • Melaksanakan penelitian atau percobaan
  • Berargumentasi, berdebat
  • Menulis dan mengedit laporan
  • Berpidato
  • Menulis berita
  • Membuat peta perjalanan
  • dsb
Acuan Kriteria / Patokan

Dalam penilaian otentik, prestasi kemampuan peserta didik tidak dibandingkan dengan peserta kelompok, tetapi dengan kemampuan yang dimiliki sebelumnya dan patokan yang ditetapkan. Penentuan patokan dapat dibuat dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 
  • Kriteria: 0-100%
  • Ideal: 75%
  • Sekolah menetapkan sendiri dengan pertimbangan sebagai berikut: ciri atau karakteristik kompetensi dasar yang hendak dicapai, daya dukung sekolah (guru dan sarana), dan karakteristik 
  • Tuntas apabila skor sama atau di atas kriteria ketuntasan. 
Tulisan ini akan dilanjutkan di Bagian 2, terutama mengenai cara penilaian. 

Sumber Bacaan: 

Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang Kemendikbud


InformasiGuru.Com Updated at: 16.28

0 comments:

Poskan Komentar