Revisi Empat Kendala Kurikulum 2013, Guru Diberi Ruang Berimprovisasi

| 22 April 2016





JAKARTA – Terdapat empat hal yang menjadi kendala utama dalam implementasi Kurikulum 2013 direvisi. Hal itu disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang Kemdikbud) Totok Suprayitno, baru-baru ini.

Keempat hal yang direvisi adalah :
  • Pertama, menge-cek kembali keselarasan kurikulum dari kelas 1-12. Apakah urut-urutan capaian kompetensi kurikulum itu runut atau tidak. 
  • Kedua, penataan kembali tentang kompetensi inti (KI) satu dan dua.
  • Ketiga, proses berpikir siswa tidak dibatasi. Pada kurikulum yang lama, berlaku sistem pembatasan, yaitu siswa SD hanya sampai memahami, SMP menganalisis dan SMA menciptakan.
  • Keempat, guru diberikan ruang kreatif yang lebih untuk melakukan pembelajaran.
Totok mengatakan, pada kurikulum revisi ini, siswa SD berpikir sampai tahap penciptaan, tentunya dengan kadar yang sesuai dengan usianya.
Contohnya, terang Totok, pada kurikulum lama ada prosedur tentang 5 M (mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis dan menciptakan). Pada kurikulum revisi, hal tersebut tidak harus dilakukan.

”Oleh sebab 5 M merupakan salah satu proses berpikir yang bisa dilatihkan tapi tidak menjadi mekanik pembelajaran, jadi, guru diberikan ruang gerak melakukan improvisasi di dalam proses pembelajaran,” ujar Totok lagi. Seperti diketahui bersama, belum lama ini, Kemdikbud melaksanakan pelatihan Kurikulum 2013 yang diikuti 598 orang Instruktur Nasional Kurikulum 2013. Mereka nantinya akan memberikan pelatihan kepada Instruktur Provinsi.

Kemudian Instruktur Provinsi akan melatih Instruktur Kabupaten/ Kota sebanyak 66.564 orang. Lalu Instruktur Kabupaten/Kota akan melatih di sekolah sasaran yang melibatkan 285.698 guru dan kepala sekolah.

Pelatihan Kurikulum 2013 akan dilakukan secara berjenjang untuk memastikan pola pelatihan di tingkat nasional yang juga berlangsung di tingkat lain, yaitu provinsi, kabupaten/kota hingga sekolah sasaran. ”Pelatihannya dilakukan secara berjenjang dan bersifat lebih banyak prakteknya.

Kurikulum 2013 menuntut pembelajaran siswa, bahkan sejak pelatihan instruktur nasional, instruktur provinsi maupun guru dilatih bagaimana melaksanakan, mengimplementasikan cara belajar siswa. Cara pembelajaran yang membuat siswa jadi praktis,” katanya lagi.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Kemdikbud Hamid Muhammad mengatakan, saat ini baru enam persen sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013. Diharapkan pada 2016 akan bertambah 19 persen, sehingga total mencapai 25 persen sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013 yang direvisi. (InformasiGuru)


InformasiGuru.Com Updated at: 05.27

0 comments:

Poskan Komentar