Indonesia Turut Pantau Pendidikan Global UNESCO 2016

| 08 September 2016

Indonesia Ikut Pantau Pendidikan Global UNESCO 2016




Indonesia Ikut Pantau Pendidikan Global UNESCO 2016
Pict by: Pixabay





Jakarta didapuk menjadi salah satu dari empat kota di dunia selain London (Inggris), Kigali (Rwanda) dan Medellin (Kolumbia) untuk menjadi tuan rumah peluncuran resmi Laporan Pemantauan Pendidikan Global atau Global Education Monitoring (GEM) UNESCO 2016, bahkan Indonesia menjadi negara pertama yang menerima laporan dari UNESCO ini. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengadakan peluncuran laporan UNESCO terkait pendidikan global.

Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Kemendikbud Ananto Kusuma Seta menjelaskan tiga kota lainnya yaitu London, Inggris, lalu Kigali, Rwanda, dan Medellin, Kolumbia. Dari keempat kota di empat negara itulah akan dilakukan peluncuran resmi Laporan Pemantauan Pendidikan Global atau Global Education Monitoring (GEM) UNESCO 2016. Indonesia juga tergabung dalam tim GEM UNESCO 2016.

Laporan GEM, Pendidikan bagi Manusia dan Bumi: Menciptakan Masa Depan Berkelanjutan untuk Semua, publikasi pertama dari rangkaian 15 tahun, menyoroti kebutuhan mendesak peningkatan layanan pendidikan. Tren saat ini menunjukkan, pendidikan dasar universal dunia hanya akan dicapai tahun 2042, sementara pendidikan menengah dasar (SMP) dicapai tahun 2059 dan pendidikan menengah ke atas (SMA) tahun 2084. Ini artinya, dunia terlambat setengah abad dari tenggat waktu pencapaian SDG (Sustainable Development Goals) 2030.

Laporan menunjukkan pendidikan perlu menekankan perhatian lebih akan masalah lingkungan. Setengah negara di dunia tidak memiliki kurikulum yang secara eksplisit membahas perubahan iklim. Di negara-negara anggota OECD, hampir 40% siswa berusia 15 tahun memiliki pengetahuan terbatas akan isu-isu lingkungan.

“Laporan GEM edisi pertama ini harus menjadi alarm pengingat. Untuk mencapai komitmen pendidikan global dunia harus menghentikan tren sebelumnya. Kini, pendidikan harus bertindak sebagai agen perubahan untuk mencapai Agenda 2030,” ungkap Asisten Direktur Jenderal untuk Pendidikan UNESCO Dr. Qian Tang.

Pendidikan harus melindungi kebudayaan minoritas dan bahasa terkait, yang memiliki informasi vital tentang bagaimana ekosistem berfungsi. Tapi laporan menunjukkan 40% populasi global diajar dalam bahasa yang tidak mereka mengerti.

“Merasa puas akan pendidikan bukanlah pilihan jika ingin menyelesaikan masalah global seperti perubahan iklim, persamaan gender, konflik kekerasan dan kemiskinan,” kata Analis Kebijakan Senior Laporan GEM Dr. Manos Antoninis. “Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kaum muda dan dewasa dalam masyarakat dan dunia kerja diperlukan demi memastikan pembangunan berkelanjutan untuk semua 15 tahun ke depan.”

Laporan berpendapat bahwa kurangnya pembiayaan untuk pendidikan secara kronis menghambat kemajuan pendidikan. Bantuan pendidikan harus meningkat enam kali untuk mengisi kesenjangan pembiayaan agar dapat mencapai pendidikan dasar dan menengah bermutu pada 2030. Nyatanya, pendanaan di tahun 2014 tujuh persen di bawah tingkat puncaknya ketika tahun 2010.

Menurut Laporan GEM, banyak negara seharusnya dapat merealokasikan pembiayaan sehingga mendapatkan manfaat dari pendidikan. Dua cara memprioritaskan pengeluaran untuk pendidikan adalah dengan menghapus subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan mengalokasikan dana pendidikan. Di Indonesia, pengeluaran publik untuk pendidikan meningkat lebih dari 60 persen antara tahun 2005 dan 2009, sebagian besar karena reformasi subsidi BBM.

Pemerintah Indonesia menetapkan visi ambisius tahun 2025 yang menargetkan Indonesia menjadi salah satu dari 12 negara maju pada tahun 2025 dan menjadi salah satu dari 8 negara maju tahun 2045 melalui pencapaian ekonomi berkelanjutan yang tinggi dan inklusif. Dengan Visi Indonesia 2025 ini pemerintah berencana menggunakan pendidikan untuk mempersiapkan generasi yang sangat berkompetensi dan siap secara aktif berkontribusi pada pembangunan dan bangsa (Rencana Utama Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi 2011-2025).




Data Laporan GEM 2015, terdapat peningkatan signifikan angka partisipasi kasar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dari 28% di tahun 2001 menjadi 70.06% di tahun 2015 di Indonesia. Tahun ini, Direktorat Jenderal PAUD Kemendikbud dianugerahi penghargaan UNESCO untuk Pendidikan Anak Perempuan dan Perempuan edisi pertama atas keberhasilan program di bidang penyetaraan gender untuk anak usia dini di Indonesia.

Angka Partisipasi Kasar Pendidikan Dasar di Indonesia sejak tahun 2000 tetap di atas 100% sementara angka putus sekolah dasar menurun dari 2,62% di tahun 2000 menjadi 0,26% di tahun 2015. Angka literasi remaja usia 15-24 meningkat dari 98,7% di tahun 2005 menjadi 99.7% di tahun 2015.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, “Pemerintah Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo telah menyusun 9 Agenda Strategis bernama “Nawa Cita.” Salah satu target diarahkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan rakyat Indonesia melalui Program Indonesia Pintar, melalui wajib belajar 12 tahun. Pemerintah juga berkomitmen merevolusi karakter bangsa melalui kebijakan restrukturisasi kurikulum pendidikan nasional untuk menjamin kualifikasi dan kesejahteraan guru.”

Direktur dan Perwakilan UNESCO Jakarta Dr. Shahbaz Khan mengatakan, “UNESCO mendukung Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina dan Timor-Leste mengintegrasikan masalah dan praktek pembangunan berkelanjutan pada semua tingkat pendidikan. Upaya ini dilakukan dengan cara berbagi praktik terbaik, mengembangkan kapasitas dan memperkuat jaringan dan kemitraan. UNESCO berharap dapat mendukung Pemerintah Indonesia meningkatkan akses dan kualitas pendidikan bagi kaum miskin, rentan dan kurang beruntung.”

Bersamaan dengan ini UNESCO Jakarta juga menyelenggarakan Forum Pemangku Kepentingan UNESCO bertema Prakarsa Interdisipliner untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 4 (Pendidikan), 5-6 September 2016. UNESCO Jakarta ada pada garis depan prakarsa program-program inovatif responsive dan melakukan intervensi di bidang pendidikan mendukung pemerintah khususnya di negara kluster dan Asia-Pasifik. Forum ini memberi kesempatan berbagi praktik terbaik proyek-proyek dan intervensi UNESCO Jakarta dalam mencapai SDG 4 dengan dihadiri pemangku kepentingan utama dari Filipina, Indonesia, Malaysia, Perancis dan Timor-Leste.





InformasiGuru.Com Updated at: 05.24

0 comments:

Poskan Komentar

Kami berterima kasih atas partisipasi Anda dengan berkomentar. Namun demikian, komentar Anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Mohon maaf, menitipkan backlink yang tidak relevan dengan isi berita tidak akan kami tampilkan. Komentar yang menjurus SARA dan bersifat promosi juga tidak akan kami tampilkan. Salam sukses dan selamat berpartisipasi.