Download Buku Strategi Implementasi Revitalisasi SMK

| 19 November 2017

Download Buku Strategi Implementasi Revitalisasi SMK: 10 (Sepuluh) Langkah Revitalisasi SMK

Download Buku Strategi Implementasi Revitalisasi SMK: 10 (Sepuluh) Langkah Revitalisasi SMK







Melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9
Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dunia pendidikan khususnya SMK sangat terbantu karena akan terciptanya sinergi antar instansi dan lembaga

Kehadiran Buku “Strategi Implementasi Revitalisasi SMK” diharapkan dapat memudahkan penyebaran informasi bagaimana tentang Revitalisasi SMK yang baik dan benar kepada seluruh stakeholder sehingga bisa menghasilkan lulusan yang terampil, kreatif, inovatif, tangguh, dan sigap menghadapi tuntutan dunia global yang semakin pesat.

Buku Revitalisasi SMK ini juga diharapkan dapat memberikan pelajaran yang berharga bagi para penyelenggara pendidikan Kejuruan, khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan untuk mengembangkan pendidikan kejuruan yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat yang senantiasa berubah dan berkembang sesuai tuntuan dunia usaha dan industri.

Tidak dapat dipungkuri bahwa pendidikan kejuruan memiliki peran strategis dalam menghasilkan manusia Indonesia yang terampil dan berkeahlian dalam bidang-bidang yang sesuai dengan kebutuhan Terima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada semua pihak yang terus memberikan kontribusi dan dedikasinya untuk meningkatkan kualitas Sekolah Menengah Kejuruan.

Buku ini diharapkan dapat menjadi media informasi terkait upaya peningkatan kualitas lulusan dan mutu Sumber Daya Manusia(SDM) di SMK yang harus dilakukan secara sistematis dan terukur.

Berikut adalah tautan Download Buku Strategi Implementasi Revitalisasi SMK: 10 (Sepuluh) Langkah Revitalisasi SMK:



Berikut adalah kutipan dari isi buku Strategi Implementasi Revitalisasi SMK: 10 (Sepuluh) Langkah Revitalisasi SMK tersebut:

1. Latar Belakang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

1.1. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Eksistensi bangsa Indonesia akan lebih diperhitungkan di
mata dunia apabila bangsa ini mampu memberikan sebuah perubahan besar. Perubahan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan. pendidikan mempunyai peranan penting dalam mencapai tujuan
pembangunan nasional. Pembangunan yang sedang berlangsung di era Globalisasi yang sedang berlangsung ini menimbulkan banyak perubahan di segala bidang. Kebutuhan dan tantangan dunia kerja yang semakin kompleks menuntut tenaga kerja sebagai sumber daya manusia harus mampu berkompetisi dengan bekal kompetensi yang profesional. Pendidikan diharap mampu melahirkan generasi bangsa yang berkarakter kuat, terampil, kreatif, inovatif, imajinatif, peka terhadap kearifan lokal dan technoprenership.
Salah satu institusi sekolah yang mempersiapkan peserta didiknya untuk mampu terjun langsung di dunia kerja setelah lulus adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Upaya peningkatan kualitas lulusan SMK telah dilakukan sejak berdirinya Sekolah Pertukangan pertama di Indonesia pada tahun 1853 yang berlokasi di Surabaya. Sekolah kejuruan di Indonesia telah berusia satu setengah abad hingga sekarang apabila sekolah tersebut dijadikan patokan. SMK dipersiapkan untuk mencetak tenaga terampil yang siap bekerja dengan berbagai kompetensi dan mampu mengikuti perkembangan IPTEK. Hal tersebut sesuai dengan penjelasan Pasal 15 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 yang menyebutkan bahwa:

“ SMK merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Pendidikan kejuruan mempunyai tujuan umum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mengembangkan potensi peserta didikagar memiliki akhlak mulia, pengetahuan dan wawasan kebangsaan yang luhur; serta mempunyai tujuan khusus yaitu menyiapkan peserta didik dengan pengetahuan, kompetensi, teknologi dan seni agar menjadi manusia produktif, maupun bekerja mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah sesuai dengan kompetensi. “

Mengacu pada isi penjelasan pasal 15 Undang – Undang Sistem Pendidikan
Nasional Tahun 2003 di atas, pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja di bidang tertentu. Namun sampai saat ini tujuan tersebut belum tercapai. Hal ini disebabkan karena sistem penyelenggaran pendidikan tidak sesuai dan sejalan dengan definisi peserta didik yang dijelaskan dalam pasal 15 Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003. Kurang maksimalnya pencapaian tujuan pendidikan merupakan akibat dari sistem pendidikan yang tidak memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan potensi, bakat dan minatnya. Akibatnya masih banyak lulusan SMK yang tidak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang keahliannya, dan menyebabkan pengangguran.

Fakta ini dapat dilihat berdasarkan data yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik pada bulan Agustus 2016 yang diketahui bahwa struktur ketenagakerjaan di Indonesia berdasarkan lulusan dapat digambarkan pada diagram 1 di bawah ini:

Dari diagram diketahui bahwa tenaga kerja yang berasal dari lulusan SMP ke bawah sebanyak 60,24 %, sedangkan tenaga kerja yang berasal dari lulusan pendidikan menengah sebesar 27,12 %, dan tenaga kerja yang berasal dari lulusan perguruan tinggi sebesar 12,24 %.

Mencermati diagram pada gambar 1 tentang tenaga kerja Indonesia yang ditinjau berdasarkan lulusan, dapat dikatakan bahwa persentase tenaga kerja paling banyak adalah dari lulusan SMP kebawah, akibatnya Banyak tenaga kerja yang tidak terampil, sehingga dapat dimaklumi bila produktivitas tenaga kerja Indonesia tertinggal dari Malaysia, Thailand, Filipina dan Cina (Bank Dunia 2014). Padahal berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai akhir tahun 2015 akan menyebabkan peningkatan kebutuhan pekerja terampil serta menurunkan kebutuhan pekerja tidak terampil. MEA diharapkan akan menjadi pendorong bagi perekonomian yang padat keterampilan (skill intensive economies) karena banyak anggota ASEAN telah bergerak menuju produksi dan ekspor yang pengerjaan serta teknologinya membutuhkan keterampilan dan produktivitas yang tinggi.

Pada tahun 2010 hingga 2025 diperkirakan akan ada kenaikan permintaan pekerja terampil di kawasan ASEAN yaitu sekitar 41% atau sekitar 14 juta orang. Separuh dari angka tersebut yang merupakan kebutuhan Indonesia dan disusul oleh Filipina dengan kebutuhan pekerja terampil sebesar 4,4 juta orang. Sesuai dengan skenario MEA. Pada tahun 2025 di Indonesia akan terjadi kenaikan peluang kerja sebanyak 1,9 juta (sekitar 1,3 % dari total peluang lapangan kerja) seperti dapat dilihat dalam gambar berikut ini:

Dari tabel distribusi frekuensi di atas diketahui bahwa terjadi kesenjangan
antara kebutuhan tenaga kerja di Indonesia dengan prediksi yang dilakukan sehingga diperlukan program akselerasi dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja di Indonesia. Penyediaan tenaga kerja terampil dilakukan dengan meningkatkan kualitas pendidikan kejuruan. Menyikapi hal itu, Pemerintah memutuskan untuk fokus secara intensif pada peningkatan pendidikan kejuruan.

1.2. Dinamika Pasar Kerja dan Keterampilan Peserta Didik

Minat masyarakat untuk menempuh pendididikan kejuruan tidak terlepas dari
tingkat keterserapan lulusan SMK di pasar kerja. Perubahan di pasar kerja dapat diindikasikan oleh perubahan penyerapan tenaga kerja lulusan sistem pendidikan dan pelatihan. Persaingan lulusan SMK dalam pasar kerja untuk mendapat pekerjaan semakin ketat karena peningkatan jumlah lulusan tak sebanding dengan pertumbuhan lapangan kerja yang sesuai dengan keahlian mereka.

Jika ditinjau dari segi lapangan kerja, cenderung ada perubahan struktur kesempatan kerja yang berjalan terus dan makin besar perubahannya dalam kurun waktu 15 tahun sampai dengan tahun 2015. Fokus pengembangan ekonomi bergeser dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa. Pada tahun 2015 terjadi penurunan drastis proporsi pekerja pada sektor pertanian, yaitu dari 45% pada tahun 2000 menjadi tinggal 33%. Perubahan tersebut diimbangi oleh peningkatan drastis proporsi pekerja pada sektor jasa dari 37% menjadi 45% pada kurun waktu yang sama. Sementara itu, proporsi pekerja pada sektor industri pengolahan meningkat secara lebih lambat dari 17% menjadi mendekati 22% saja (Gambar 3).

Selain perubahan struktur kesempatan kerja, adanya kesenjangan kompetensi
juga menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian antara supply dan demand tenaga kerja Industri pengolahan dan jasa pada tahun 2000 – 2015 untuk kompetensi tertentu. Adanya kesenjangan kompetensi merupakan akibat langsung dari perencanaan pendidikan yang tidak berorentasi pada realitas yang terjadi dalam masyarakat. Pendidikan dilaksanakan sebagai bagian parsial, terpisah dari konstelasi masyarakat yang terus berubah. Pendidikan diposisikan sebagai mesin ilmu pengetahuan dan teknologi, cenderung lepas dari konteks kebutuhan masyarakat secara utuh. Ketidakseimbangan dalam bursa kerja menyebabkan menumpuknya lulusan program pendidikan pada tingkat tertentu, namun justru kekurangan pada segmen yang lainnya.

Ketidaksesuaian antara supply dan demand lulusan SMK dengan peluang kebutuhan tenaga kerja dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini:

Pada tabel 1 ditunjukan/menunjukan bahwa bidang keahlian bisnis dan manajemen mencetak lulusan sebanyak 348.954 peserta didik tetapi tidak diimbangi dengan penyerapan lulusan tenaga kerja yang hanya sebesar 119.255 peserta didik, sehingga terjadi pengangguran sebanyak 229.699 peserta didik. Hal ini dikarenakan peluang kerja untuk bidang keahlian bisnis dan manajemen dapat diiisi oleh semua lulusan pendidikan menengah seperti lulusan yang berasal dari SMA atau MA.

Kesenjangan kompetensi antara kompetensi belajar di SMK dan kompetensi yang diperlukan dalam pasar kerja mendapatkan perhatian dari Pemerintah dalam bentuk perubahan kurikulum dengan cara penyelarasan kurikulum di sekolah dengan kebutuhan Dunia Usaha/Industri. Selain itu Pemerintah juga akan melakukan tata ulang program keahlian yang memang sudah tidak sesuai dengan program keahlian baru yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan Dunia Usaha/Industri saat ini.

Rencana ini disambut baik oleh masyarakat khususnya Dunia Usaha dan Industri yang membantu dalam pelaksanaan kurikulum sekolah dalam bentuk kerjasama industri. Terbukti dengan pertumbuhan SMK semakin pesat di Indonesia dan peminatnya semakin banyak dari tahun ke tahun. Hal tersebut terbukti dengan semakin banyak orang tua menyekolahkan anaknya pada jenjang pendidikan SMK. Masyarakat menyadari pentingnya pendidikan SMK sebagai lembaga yang mencetak tenaga-tenaga terampil siap kerja dalam menghadapi perkembangan dunia global yang semakin pesat. Selain itu pilihan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di SMK didasari oleh anggapan bahwa orang tua akan lebih cepat balik modal karena SMK menyiapkan lulusan yang siap bekerja.

Hal ini ditandai dengan jumlah SMK yang tumbuh pesat dimulai pada tahun
2010 dari sebesar 9.164 sekolah menjadi 11.708 sekolah pada tahun 2013 atau tumbuh sebesar 27,6%. Jumlah SMK terbanyak adalah di Jawa Barat (2.125) diikuti dengan JawaTimur (1.654), Jawa Tengah (1.427), Sumatera Utara (901) dan DKI Jakarta (595).Sementara Provinsi dengan jumlah SMK terendah adalah Provinsi.

Pertumbuhan jumlah SMK harus diikuti oleh perkembangan kualitas lulusan SMK. Oleh karena itu, setiap peserta didik harus dididik untuk menjadi insan yang cerdas, unggul, terampil, kreatif, imajinatif, peka terhadap kearifan, dan technopreneurship supaya tidak menjadi beban masyarakat. Selain itu lulusan SMK harus mampu bersaing dengan lulusan dari negara lain dan harus dapat memberikan kontribusi terhadap daya saing bangsa, mengingat Indonesia harus mampu bersaing dengan negara – negara lain baik dalam produk, pelayanan, maupun dalam penyiapan sumber daya manusia.

John F.Thompson salah satu pakar pendidikan kejuruan, dalam bukunya yang berjudul Foundations of Vocational education menyatakan bahwa pendidikan kejuruan menggerakkan pasar kerja dan berkontribusi pada kekuatan ekonomi suatu negara (1973: 93). Oleh karena itu, SMK harus mampu memberikan kontribusi terhadap daya saing bangsa. Terbitnya Inpres No.9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK tidak terlepas dari fenomena yang dipaparkan di atas.

2. Isi Inpres No.9 tentang Revitalisasi SMK

Revitalisasi Pendidikan merupakan upaya yang lebih cermat, lebih gigih dan lebih bertangung jawab untuk mewujudkan tujuan pembangunan pendidikan nasional sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional. Revitalisasi dalam konteks pendidikan dimaksudkan untuk memaksimalkan semua unsur pendidikan (Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, BUMN, BUMD, dan Perusahaan Swasta) yang terkait untuk peduli secara riil dalam proses pendidikan SMK. Aspek akhlak mulia, moral dan budi pekerti perlu dimasukkan dalam pengembangan kebijakan, program dan indikator keberhasilan pendidikan melalui Revitalisasi SMK.

Instruksi dalam revitalisasi ini ditujukan kepada 12 menteri kabinet kerja, 34 gubernur, dan kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Pertama instruksi tersebut berisi tentang:

1) Mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing untuk merevitalisasi SMK guna meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusia Indonesia.
2) Menyusun peta kebutuhan tenaga kerja bagi lulusan SMK sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing dengan berpedoman pada peta jalan pengembangan SMK.

3. Tujuan Revitalisasi SMK

Menindaklanjuti Inpres No. 9 Tahun 2016, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan secara gamblang menginstrusikan untuk menyempurnakan dan menyelaraskan kurikulum SMK sesuai dengan kompetensi kebutuhan pengguna lulusan (link and match). “Link” dan “match” mengisyaratkan agar para lulusan mempunyai wawasan atau sikap kompetititf, seperti etika kerja (work ethic), pencapaian motivasi (achievement motivation), penguasaan (mastery), sikap berkompetisi (competitiveness), memahami arti uang (money beliefs), dan sikap menabung (attitudes to saving). “Link” dan “match” memerlukan perubahan kerangka pikir dari seluruh pelaksana pendidikan baik institusi pendidikan maupun staf pengajar harus pro aktif mengembangkan “link” dan “match” dengan dunia kerja.

“Link” and “Match” dalam Revitalisasi SMK diharapkan dapat menciptakan generasi penduduk usia produktif siap kerja yang memiliki kompetensi keterampilan atau keahlian siap pakai yang dibutuhkan perusahaan dan dunia industri. Mengingat perusahaan dengan dunia industri sangat membutuhkan tenaga terampil siap kerja yang berkarakter etos kerja dan disiplin serta memiliki daya saing tinggi. Tujuan yang akan dicapai dengan adanya revitalisasi SMK ini adalah:
1) Mewujudkan Link and Match sekolah dengan Dunia Usaha/Industri.
2) Mengubah paradigma dari push menjadi pull. Artinya paradigma SMK yang dulunya hanya mendorong untuk mencetak lulusan saja tanpa memperhatikan kebutuhan pasar kerja berganti menjadi paradigma mencari segala sesuatu yang berhubungan dengan pasar kerja mulai dari budaya kerja dan kompetensi yang diperlukan dalam pasar kerja dan menariknya ke dalam SMK untuk disusun kurikulum SMK yang diselaraskan dengan kurikulum industri.
3) Mengubah pembelajaran dari supply driven ke demand driven.
4) Menyiapkan lulusan SMK yang adaptable terhadap perubahan dunia untuk menjadi lulusan yang dapat bekerja, melanjutkan, dan berwirausaha.
5) Mengurangi/menghilangkan kesenjangan antara pendidikan kejuruan dengan kebutuhan DUDI baik dari aspek teknologi, administratif, maupun kompetensi.

4. Langkah Revitalisasi SMK

Melalui Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah
Menengah Kejuruan, Presiden Joko Widodo memberi instruksi kepada 12 menteri,
34 gubernur, dan kepala BNSP untuk segera mengambil langkah-langkah revitalisasi pendidikan kejuruan sesuai dengan tugas, fungsi, dan wewenang masing-masing untuk peningkatan SDM Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merumuskan langkah revitalisasi SMK yang akan dilakukan dalam rangka menciptakan sumber daya manusia unggul di setiap bidang serta memiliki daya saing sesuai dengan amanah dalam Inpres No.9 Tahun 2016. Direktorat Pembinaan SMK telah menetapkan lima area revitalisasi yang terdiri atas kurikulum, guru dan tenaga kependidikan, kerjasama dengan Dunia Usaha/Industri, sertifikasi dan akreditasi, serta sarpras dan kelembagaan. Masing-masing dari lima area revitalisasi tersebut perlu diimplementasikan dengan langkah nyata demi terwujudnya sumber daya manusia yang unggul di setiap bidang. Perwujudan langkah nyata tersebut dilakukan dengan sepuluh langkah revitalisasi SMK yang dijelaskan seperti pada Gambar 8.

Demikian tulisan tentang

Download Buku Strategi Implementasi Revitalisasi SMK: 10 (Sepuluh) Langkah Revitalisasi SMK

Semoga bermanfaat dan salam sukses selalu!


InformasiGuru.Com Updated at: 21.50

0 comments:

Posting Komentar

Masukan dari Anda Terhadap Tulisan Kami Akan Sangat Kami Apresiasi. Terima Kasih dan Selamat Berpartisipasi!