Buku Pedoman Pengelolaan Pembelajaran PAUD

| 05 Desember 2017

Download Buku Pedoman Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pdf

Download Buku Pedoman Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pdf







Bagaimana Mengelola Pembelajaran di PAUD?

Perhatikan Karakteristik Kurikulum 2013 PAUD.

Kurikulum Paud menggunakan pembelajaran tematik dengan pendekatan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan dalam pemberian rangsangan pendidikan. Kurikulum ini akan memberikan program pengembangan bagi anak dalam mengembangkan semua potensi anak agar menjadi anak yang kompeten.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan di PAUD

Guru perlu memperhatikan karakteristik cara anak usia dini belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran Paud. Anak usia dini belajar secara bertahap dengan cara berpikir yang khas Ia mampu belajar dengan berbagai cara, dan ia belajar dari proses sosialisasi dengan lingkungannya. Pada prinsipnya anak belajar melalui bermain. Hal ini sesuai dengan perkembangan anak, yang menjadikan bermain sebagai kebutuhan anak. Bermain membuat anak menjadi pembelajar aktif, dan memungkinkan anak menjadi makin kreatif. Selain itu, dalam kegiatan bermain yang didukung lingkungan yang kondusif, anak sesungguhnya juga belajar mengembangkan nilai-nilai karakter.

Dengan memanfaatkan media dan sumber belajar yang mudah ditemukan anak, serta dukungan dari fasilitator, maka anak dapat berlajar secara optimal. Dukungan yang dapat diberikan guru berupa:
1. Guru memberi mereka kesempatan untuk mencoba/ mengeksplorasi dan menggunakan berbagai obyek/bahan dengan cara yang beragam.
2. Guru memberi dukungan dengan pertanyaan (dan atau bimbingan) yang tepat.
3. Guru menghargai setiap usaha dan hasil karya anak dengan tidak membandingkan dengan anak lainnya.

Pendekatan pembelajaran yang menyenangkan adalah proses pembelajaran yang dirancang agar anak secara aktif dapat mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan, baik terkait diri sendiri, lingkungan, atau kejadian. Penerapan pendekatan pembelajaran yang baik akan menumbuhkan kemampuan berpikir anak. Salah satu pendekatan pembelajaran tersebut adalah pendekatan saintifik.

Berikut adalah tautan Download Buku Pedoman Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pdf:




Berikut adalah kutipan dari buku tersebut:



Apakah yang Dimaksud Pendekatan Saintifik ?

Pendekatan saintifik adalah salah satu pendekatan dalam membangun cara berpikir agar anak memiliki kemampuan menalar yang diperoleh melalui proses mengamati sampai pada mengomunikasikan hasil pikirnya.

Hal ini didasarkan pada pemikiran Piaget yang mengatakan bahwa “Anak belajar dengan cara membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalaman yang diperolehnya”. Vygotsky berpendapat bahwa “Lingkungan, termasuk anak lain atau orang dewasa dan media sangat membantu anak dalam belajar untuk memperkaya pengalaman anak. Untuk itu, kurikulum 2013 PAUD mengusung cara belajar anak agar memiliki kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan

Penanaman sikap dibangun melalui pembiasaan (habituasi) dan keteladanan (modeling). Pengembangan pengetahuan dan keterampilan dapat dilakukan melalui pendekatan saintifik (untuk penanaman sikap akan dipandu dengan pedoman tersendiri).

Pendekatan saintifik digunakan pada saat anak terlibat dalam kegiatan main (termasuk saat kegiatan pembelajaran sains), maupun kegiatan lainnya, misalnya main peran, main balok, main keaksaraan, atau melakukan kegiatan seni.

Agar pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan setiap kemampuan yang hendak dicapai, maka diperlukan pedoman pembelajaran sesuai dengan karakteristik anak yang mengacu pada kurikulum 2013 PAUD yang dapat menjadi acuan bagi guru di lapangan.

Mengapa Perlu Pendekatan Saintifik?

Anak usia dini dapat belajar melalui apapun. Melalui pemahaman terhadap cara anak usia dini belajar, maka guru dapat memilih pendekatan yang paling sesuai dengan cara belajar anak. Untuk mendapatkan penjelasan mengapa perlu pendekatan saintifik, maka guru perlu mengenali tentang anak usia dini, karakteristik cara belajar anak dan prinsip pembelajaran pada PAUD.

Karakterististik Cara Belajar Anak Usia Dini

1. Anak belajar secara bertahap.
Anak adalah pembelajar alami dan sangat senang

belajar. Anak belajar sejak lahir. Anak senang mencari pemecahan dari masalah yang dihadapinya. Ia belajar dengan cara :

• bertahap sesuai dengan tingkat kematangan perkembangan berpikirnya.
• mulai segala sesuatu dari hal-hal yang bersifat konkrit ke abstrak.
• menggunakan seluruh inderanya: mengamati, membau, mendengarkan bunyinya, merasakan, mencicipi, mendorong, menarik, bahkan menggerak-gerakkan dengan berbagai cara yang disukainya, dll.

2. Cara berpikir anak bersifat khas.
Cara anak berpikir berakar dari pengalamannya sehari-hari. Sumber pengalaman anak didapat dari:
• pengalaman sensory dengan menggunakan seluruh inderanya (penglihatan, pendengaran, penghidu, perasa, pengecap)
• pengalaman berbahasa saat mereka berkomunikasi dengan teman, orang tua, guru atau orang lain.
• pengalaman budaya dalam bentuk kebiasaan di rumah, nilai yang diterapkan dalam keluarga termasuk yang berlaku di lingkungan.
• pengalaman sosial dari teman sepermainan, perilaku orang dewasa, dll.
• pengalaman yang bersumber dari media masa, misal dari surat kabar, majalah, televisi, radio, dll.
3. Anak belajar dengan berbagai cara.
Anak senang mengamati dan menggunakan mainannya dengan berbagai cara. Misalnya mobil-mobilan dapat digerakkan maju mundur, dimainkan rodanya, dibongkar, dll. Namun, orang dewasa sering hanya menginginkan anak bermain seperti yang dipikirkan mereka.

4. Anak belajar saat bersosialisasi.
Anak belajar banyak pengetahuan dan keterampilan melalui interaksi dengan lingkungannya. Kemampuan berbahasa, kemampuan sosial-emosional, dan kemampuan lainnya berkembang pesat bila anak diberi kesempatan bersosialisasi dengan teman, benda, alat main, dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Prinsip Pembelajaran PAUD.

1. Belajar Melalui Bermain Anak di bawah usia 6 tahun berada pada masa bermain. Pemberian rang- sangan pendidikan dengan cara yang tepat melalui bermain, dapat membe- rikan pembelajaran yang bermakna pada anak. Bermain merupakan kegiatan melatih otot besar dan kecil, melatih keterampilan berbahasa, menambah pengetahuan, melatih cara mengatasi masalah, mengelola emosi, bersosialisasi, mengenal matematika, sains, dan banyak hal lainnya Bermain bagi anak juga sebagai pelepasan energi, rekreasi, dan emosi saat bermain anak merasa nyaman dan gembira. Dalam keadaan nyaman semua syaraf otak dalam keadaan rileks sehingga memudahkan menyerap berbagai pengetahuan dan membangun pengalaman positif. Kegiatan pembelajaran melalui bermain mempersiapkan anak menjadi senang belajar.

2. Berorientasi pada Perkembangan Anak Guru harus mampu mengembangkan semua aspek perkembangan sesuai dengan usia anak. Perkembangan anak tergantung pada kematangan anak. Kematangan anak dipengaruhi oleh status gizi, kesehatan, pengasuhan, pendidikan, dan fak- tor bawaan. Perkembangan anak bersifat individu. Anak yang usianya sama bisa jadi perkembangannya

3. Berorientasi pada Kebutuhan Anak secara Menyeluruh
Guru harus mampu memberi rangsangan pendidikan atau stimulasi sesuai dengan kebutuhan anak, termasuk anak-anak yang mempunyai kebutuhan khusus. Untuk dapat hidup secara sehat dan cerdas membutuhkan:

a. Kesehatan dan gizi
b. Pengasuhan
c. Pendidikan
d. Perlindungan

Program layanan PAUD harus memenuhi kebutuhan tersebut. Penyelenggara PAUD harus bekerjasama dengan layanan kesehatan, gizi, kesejahteraan sosial, hukum, dan orang tua. Dengan kata lain layanan PAUD Holistik Integratif menjadi keharusan termasuk untuk anak berkebutuhan khusus.

4. Berpusat pada Anak

Anak diberi kesempatan untuk mencari, menemukan, menentukan pilihan, mengemukakan pendapat, dan aktif melakukan serta mengalami sendiri

Anak sebagai pusat pembelajaran, artinya:

a. Kegiatan pembelajaran direncanakan dan dilaksanakan untuk mengembangkan seluruh potensi fisik dan psikis anak.

b. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan sesuai dengan cara berpikir dan perkembangan kognitif anak.
c. Pembelajaran PAUD ber- orientasi pada anak, bukan pemenuhan keinginan lembaga/guru/orang tua.

5. Pembelajaran Aktif

Guru perlu menciptakan kegiatan-kegiatan yang menarik dan membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berfikir kritis, dan kreatif. Pembelajar aktif berarti anak belajar, melakukan atas dasar idenya bukan hanya mengikuti instruksi atau arahan guru. Pembelajaran aktif tidak hanya aktif anggota tubuhnya, tetapi yang penting juga aktif proses berpikirnya.

6. Berorientasi pada Pengembangan Karakter
Pemberian rangsangan pendidikan dan pembelajaran diarahkan untuk mengembangkan nilai-nilai karakter. Pengembangan nilai- nilai karakter dilakukan secara terpadu baik melalui pembiasaan dan keteladanan baik yang bersifat spontan maupun terprogram.

Nilai-nilai karakter yang termuat dalam kompetensi dasar sikap meliputi:

a. Menerima ajaran agama yang dianutnya
b. Menghargai diri sendiri, orang lain dan lingkungan c. Memiliki perilaku hidup sehat
d. Rasa ingin tahu e. Kreatif
f. Estetis
g. Percaya diri h. Disiplin
i. Sabar
j. Mandiri k. Peduli
l. Toleran

7. Berorientasi pada Pengembangan Kecakapan Hidup
Pemberian rangsangan pendidikan dan pembelajaran diarahkan untuk mengembangkan kecakapan hidup anak. Kecakapan hidup yang dimaksud adalah kemampuan untuk menolong diri sendiri, sehingga anak tidak tergantung secara fisik maupun pikiran kepada orang lain. Pengembangan kecakapan hidup dilakukan secara terpadu baik melalui pembiasaan, keteladanan, maupun kegiatan terprogram.

8. Lingkungan Kondusif
Lingkungan pembelajaran diciptakan sedemikian rupa agar menarik, menyenangkan, aman, dan nyaman bagi anak. Penataan ruang diatur agar anak dapat berinteraksi dengan guru, pengasuh, dan anak lain. Lingkungan yang kondusif mampu mendorong munculnya proses pemikiran ilmiah. Lingkungan yang kondusif atau yang mendukung mencakup suasana yang baik, waktu yang cukup, dan penataan yang tepat. Waktu yang cukup maksudnya waktu cukup untuk bermain, cukup untuk beristirahat, dan cukup untuk bersosialisasi.

Suasana lingkungan yang mendukung anak belajar:

a. Memberikan perlindungan dan kenyamanan saat anak bermain dengan bahan dan alat sesuai ide anak.
b. Memberi kebebasan untuk anak melakukan eksplorasi dan eksperimentasinya.
c. Memberi kesempatan anak untuk memberikan penjelasan tentang cara kerja dan hasil yang dibuatnya.
d. Menyediakan berbagai alat dan bahan yang dapat mendukung cara anak bermain.
e. Memberi dukungan dalam bentuk pertanyaan yang mendorong anak mengembangkan ide, bukan memberi arahan untuk dilakukan anak.

Penataan lingkungan yang mendukung belajar adalah lingkungan yang:

a. Terjaga kebersihannya.
b. Semua alat, perabot, dan kondisi ruangan dipastikan terjaga keamanannya.
c. Ditata dengan rapi untuk membiasakan anak berperilaku rapi dan teratur.
d. Ditata sesuai dengan tinggi badan anak untuk membangun perilaku mandiri.

9. Berorientasi pada Pembelajaran Demokratis.

Pembelajaran yang demokratis sangat diper- lukan untuk mengem- bangkan rasa saling menghargai anta- ra anak dengan guru, dan dengan anak lain. Pembelajaran demok- ratis memupuk sikap konsisten pada gagasan sendiri, tetapi menghargai orang lain dan mentaati aturan.

a. Menghargai perbedaan dan keistimewaan anak tanpa membeda-bedakan.
b. Menghargai gagasan dan hasil karya anak tanpa membandingkan dengan anak lainnya
c. Memberi kesempatan pada anak melakukan dan menolong dirinya sesuai dengan kemampuannya untuk mendapatkan pengalaman bermain yang berharga.
d. Memfasilitasi anak dengan beragam obyek baik alam maupun buatan yang menarik sehingga memunculkan rasa ingin tahu anak dan anak akan melakukan pengamatan, misalnya bunga-bunga, kolam ikan, aquarium, sangkar burung atau kandang kelinci, dll.

10. Menggunakan Berbagai Media dan Sumber Belajar Penggunaan media dan sumber yang ada di lingkungan ini bertujuan agar pembelajaran
lebih kontekstual dan bermakna, lebih dekat dengan kehidupan anak. Sumber belajar yang dimaksud adalah orang-orang dengan profesi tertentu yang sesuai dengan tema, misalnya: dokter, polisi, nelayan, dan petugas pemadam kebakaran. Pembelajaran kontekstual menguntungkan anak.
a. Penggunaan berbagai media dan sumber belajar dimaksudkan agar anak dapat menggali dengan benda- benda di lingkungan sekitarnya. Anak yang terbiasa menggunakan alam dan lingkungan sekitar untuk belajar, akan lebih peka kesadarannya untuk memelihara lingkungan.
b. Piaget meyakini bahwa anak belajar banyak dari media dan alat yang digunakannnya saat bermain. Karena itu media belajar bukan hanya yang sudah jadi berasal dari pabrikan, tetapi juga segala bahan yang ada di sekitar anak, misalnya daun, tanah, batu-batuan, tanaman, dan sebagainya.

Kapan Proses Berpikir Saintifik dapat Dialami Anak?

Anak selalu berinteraksi dengan lingkungannya, kapanpun. Di situlah pendekatan saintifik dapat dilaksanakan. Dapat dilakukan di rumah ataupun di lembaga PAUD. Di lembaga PAUD, stimulasi terhadap kemampuan berpikir saintifik dapat dimulai sejak anak datang, kegiatan awal pembelajaran, saat proses belajar melalui bermain, makan, main bebas bahkan sampai pulang kembali ke rumah. Selanjutnya orangtua dapat meneruskan selama anak berada bersama keluarga.

Contoh proses berpikir saintifik saat kedatangan ke sekolah.

Dian turun dari boncengan sepeda motor ayahnya, dan menuju ke pintu gerbang sekolah. Ibu guru telah menyambutnya dan mengucapkan salam kepada Dian. Dian menunjukkan sepatunya yang baru kepada guru sambil berkata:

Dian : “Bunda, lihat sepatuku......!”
Guru : “Wah.... bunda lihat sepatu Dian berbeda dari sepatu yang biasa dipakai.” Dian : “Ini kan sepatu baru, Bunda.”
Guru : “Ou... coba diamati, apa saja yang Dian sukai pada sepatu itu ?
Dian : “Aku suka warnanya, biru. Ini ada gambar kupu-kupunya... ada bunga- bunganya.”
Guru : “Apa hubungan kupu-kupu dan bunga ya ?” Dian : “Kupu-kupunya kan suka hinggap di bunga.”
Guru : “Iya... kupu-kupu menyukai bunga yang berwarna menarik dan membantu agar bunga-bunga itu menjadi tersebar lebih banyak.”
Dian : “Teman-teman... bunga bisa jadi banyak karena ada kupu-kupu.”

Contoh proses berpikir saintifik saat kegiatan pembukaan.

Guru menjelaskan tentang semut. Pada saat lingkaran guru memberikan ide pada anak tentang membuat semut dari bahan-bahan limbah yang ada.

Guru : “Pernahkah kalian melihat semut ? Seperti apa bentuknya?
Dio : “Kecil, warnanya merah dan ada yang hitam.”
Mei : “Semut jalannya baris panjang ....”
Guru : “Bagian-bagian apa saja yang dimiliki semut ?” Dimas : “Ada kepalanya, ada matanya dan ada
antenanya.”
Riri : “Dia punya kaki juga, tapi kecil gak kelihatan.” Guru : “Dari mana kalian tahu bahwa dia punya kaki?” Riri : “Kan dia bisa jalan, jadi dia punya kaki”.
Guru : “Tahukah kalian ada juga binatang yang tidak punya kaki, tapi bisa berjalan.” Roni : “Iya... aku tahu... ular tidak punya kaki, tapi dia bisa berjalan.
Guru : “Jadi dengan apa dia berjalan?” Roni : “Pakai perut...”

Contoh proses berpikir saintifik saat bermain.

Evan sedang menggambar dan menyapa guru yang lewat di dekatnya.

Evan : “Bu, ini aku menggambar helikopter. Helikopternya sedang bergerak.” Guru : “Menurut Evan, apa yang menyebabkan helikopter itu bisa bergerak?” Evan : “Ada mesinnya. Mesinnya bunyinya keras...”
Angin bertiup dan menerpa rambut Evan, Evan merespon dengan berkata,”Ini ada angin...”
Guru : “Wah.. ada angin. Angin bisa menerbangkan benda-benda di sini. Benda apa saja yang dapat diterbangkan oleh angin?”
Evan sambil memegang rambutnya : “Rambutku.. ini kena angin.”
Guru : “Betul, angin bisa menggerakkan rambut, kertas, daun dan benda-benda lainnya. “
Evan tiba-tiba berseru sambil menunjuk ke sebuah arah,”Lihat.. itu ada crane... Crane
nya bergerak putar-putar.”
Guru : ”Menurut Evan, crane itu bergerak karena angin atau mesin?” Evan : ”Ya karena ada mesin dan juga ada anginnya.”

Contoh proses berpikir saintifik saat makan bekal.

Amira dan Aisyah telah mempersiapkan kotak bekal dan minumannya di meja. Sambil menunggu teman-teman lain mempersiapkan diri, mereka duduk berdua dan bercakap-cakap:
Amira : “Lihat, botol minuman kita sama ya...?” Aisyah : “Iya... sama... “
Amira : “Ini ada gambar Elsa.. ”
Aisyah : “Itu Ana....” tunjuk Aisyah pada tokoh Ana dalam film Disney Frozen di botol minumnya.
Amira : ”Sama kan.... Tos...”, seru Amira sambil menunjukkan lima jarinya ke arah
Aisyah. Aisyah menepukkan lima jarinya ke jari Amira sambil tersenyum.

Seperti Apa Pembelajaran dengan Proses Berpikir Saintifik ?

Pada dasarnya anak seorang peneliti. Semua yang ada di sekitarnya menarik perhatiannya. Anak akan memperhatikan, meneliti, mencoba, dan bertanya. Cara belajar alamiah tersebut dikukuhkan menjadi pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik merupakan upaya untuk mengembangkan dan meneruskan perilaku positif tersebut. Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang agar peserta didik secara aktif dapat mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan.

Penerapan pendekatan saintifik yang baik akan menumbuhkan kemampuan berpikir anak. Agar optimal dalam penerapan pendekatan tersebut maka penting untuk diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

• Guru harus melihat anak-anak sebagai pembelajar aktif
• Guru memberi mereka kesempatan untuk mencoba/ mengeksplorasi dan menggunakan berbagai obyek/bahan dengan cara yang beragam
• Guru memberi dukungan dengan pertanyaan (dan atau bimbingan)
yang tepat.
• Guru menghargai setiap usaha dan hasil karya anak dengan tidak membandingkan dengan anak lainnya.

Contoh proses berpikir saintifik saat berbaris pulang.

Saat berbaris, ada beberapa anak yang berdiri di depan pintu kepulangan sambil menunggu beberapa teman yang lain yang sedang mempersiapkan diri untuk pulang. Ria menunjukkan tas punggungnya kepada Fira.

Ria : ”Lihat, tas kita sama ya….!”
Fira : “Iya…. sama warnanya. Biru…..”
Guru mendekati kedua anak itu sambil mengajak bercakap-cakap. Guru : Coba kita amati, apa saja persamaan kedua tas ini ya?” Rendi : “Sama-sama ada talinya…”
Dimas : “Juga sama-sama ada rodanya. Dinda : “Sama ada tongkatnya juga !”
Nona : ”Bunda, kenapa sudah ada talinya harus ada rodanya?
Guru : “Coba kalian pikirkan, mengapa ada tali, roda dan tongkatnya? Untuk apakah benda-benda ini ?(sambil guru memegang tali dan roda pada tas).
Ria : “Aku tahu…. Kalau tasnya berat, tinggal ditarik saja tongkatnya. Kan ada rodanya, jadi tasnya bisa jalan. Jadi kita tidak capai bawanya.”
Fira : ”Tapi kalau isinya sedikit, kita bisa pakai talinya.. taruh di sini… (kata Fira sambil memperagakan gerakan meletakkan tali tas di punggungnya).
Rendi : “Ayahku juga punya tas besar, ada tongkat dan rodanya. Kalau pergi naik kereta, ayahku bawa tas besar itu.”
Guru : ”Oh ya… mungkin ayah Rendi akan ke luar kota. Menurut teman-teman, mengapa ayah Rendi membawa tas besar jika akan ke luar kota?”
Dimas : “Soalnya ayah Rendi harus bawa macam-macam barang. Itu pasti ada bajunya…
ada celana, dan ada handuknya…”.
Guru : ”Betul Dimas, tas besar itu berisi berbagai keperluan ayah selama di luar kota.
Jika ke sekolah kita tidak perlu membawa tas besar, karena barang yang kita bawa sedikit. Baiklah teman-teman….., kita akan segera pulang, pastikan kita siap dengan tas kita, tanpa ada yang tertinggal di sekolah.”
Anak-anak berdiri dengan rapi dan bersiap-siap berjalan menuju ruang penjemputan

Demikian tulisan tentang

Download Buku Pedoman Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pdf

Semoga bermanfaat dan salam sukses selalu!


InformasiGuru.Com Updated at: 17.50

0 comments:

Posting Komentar

Komentar Anda Sangat Dibutuhkan Untuk Tetap Menjalin Silaturahmi