thumbnail

Teknik Mengajar Guru Masa Kini

Posted by Admin on 14 Desember 2016

www.informasiguru.com/15 Teknik Mengajar Guru Masa Kini
15 Teknik Mengajar Guru Masa Kini
Image by: Pixabay

15 Teknik Mengajar Guru Masa Kini



Guru adalah profesi yang selalu menuntut pembaharuan di setiap harinya. Pembaharuan tersebut tak hanya berdasarkan instrument dalam pengajaran, namun dituntut untuk cerdas pula mengkomparasikan instrument pengajaran dengan wawasan yang dimilikinya. Bagi mereka yang memang memiliki hasrat dalam dunia mengajar, tentu akan cerdik untuk selalu mencari teknik mengajar terbaik yang bisa diterapkan kepada para muridnya yang berbeda di setiap harinya. Sebenarnya banyak sekali macam teori belajar dan pembelajaran dewasa ini.
Oke, bagi Anda para guru dimanapun berada, berikut 15 Teknik Mengajar Guru Masa Kini yang sekiranya mampu diterapkan kepada para murid dalam teknik pembelajaran di kelas.
  • Honesty
Pengajar harus menanamkan sikap berani untuk menyatakan ketidaktahuan pada para siswanya. Dengan menanamkan sikap berani dalam menyatakan ketidaktahuan, maka para siswa secara tidak langsung diajarkan untuk berani mengakui kesalahan yang telah dilakukannya. Tugas guru adalah memberikan semangat siswanya yang berani berkata tidak tahu daripada harus mempermalukan siswanya di depan kelas ketika ia tidak bisa. Namun perlu diingat, pemberian apresiasi tersebut haruslah dilakukan dengan cara yang tepat, tidak seolah-olah menyetujui semua siswa yang sedikit-sedikit tidak tahu, karena hal tersebut juga berdampak pada matinya kreativitas siswa untuk mengambil resiko setiap apa yang dilakukan.

  • Commenting On Student Question
Jangan membiarkan siswa menjawab tanpa diberikan apresiasi yang baik, walaupun siswa tersebut menjawab pertanyaan yang diajukan tersebut salah. Karena mereka yang telah berani menjawab pertanyaan, berarti memiliki value lebih dibandingkan rekan-rekannya yang lain yang tidak berani menjawab. Apresiasi tersebut tak melulu berbentuk barang, ataupun sanjungan, namun dengan memberikan komentar bijak dan baik pun menjadi salah satu apresiasi yang sangat berguna bagi siswa itu sendiri, ataupun siswa yang lainnya.
  • Question & Answer Method
Ketika suasana kelas sedang membosankan tentu membuat tensi darah pengajar menjadi beku dan membuat suasana mengajar menjadi kaku. Salah satu teknik yang dapat dilakukan untuk mencairkan suasana namun tetap apik adalah mengajukan pertanyaan. Pertanyaan dapat dilakukan dengan cara yang tak biasa, sehingga menarik perhatian siswa. Cara bertanya seperti dengan mengungkapkan fenomena ter-update yang dikomparasikan dengan pembelajaran adalah metode ampuh yang dapat diterapkan. Teknik bertanya ini berguna untuk menarik perhatian siswa dan membuatnya bergairah untuk menerima informasi selanjutnya. Jangan biasakan tetap menerabas membaca buku teks, padahal siswa di belakang sudah tergeletak kepalanya di atas meja, karena mendengarkan khotbah ilmu monoton yang anda peragakan.
  • Focus & Point Basis
Terkadang metode pembelajaran yang menerapkan slide dalam menjelaskan materi, tujuan awalnya adalah untuk membantu siswa untuk memahami apa yang dikhotbahkan. Namun yang terjadi saat ini, media power point yang di berikan guru justru malah menjadi buku teks di dinding. Banyak dari guru yang mencampurkan banyak sekali tulisan, yang sebenarnya bisa di baca sendiri oleh para siswanya. Yang lebih anehnya, sebagian guru menjelaskan materi juga membaca buku. Lantas buat apa power point tersebut? Menggunakan power point cobalah fokus terhadap inti dari point yang ada, dengan mengkomparasikan beberapa video singkat atau musik, karena hal tersebut sangat bermanfaat untuk membangkitkan gairah siswa yang tengah bosan mendengarkan materi dari pagi hingga sore.
  • Self Reflection
Mempersilahkan siswa menjawab pertanyaan yang dilontarkan siswa tersebut untuk membantunya mengasah pola pikir. Selain membantu mengasah pola pikir siswa, metode ini juga berguna untuk mendidik siswa untuk ikut serta memberikan solusi dari sebuah masalah yang ia ajukan. Fungsi guru adalah sebagai penuntun dan pembimbing jika jawaban dari apa yang ia ajukan sendiri kurang tepat.
  • Reasoning & Argumentation
Menjabarkan alasan dari suatu materi yang dianggap sulit agar siswa semakin paham. Dengan menerapkan langkah ini, akan membuat murid paham secara menyeluruh dari materi yang disampaikan oleh guru di depan kelas. Sangat penting untuk menggunakan reasoning argumentation dalam menjelaskan materi-materi sulit, karena apabila materi sulit tak dijabarkan secara mendalam dengan berbagai alasan dan argumentasi valid di lapangan, membuat siswa menganggap Anda hanya omong besar.
  • Picture & Group Technology
Di jaman modern yang serba digital saat ini, tentu metode pembelajaran yang masih menggunakan cara kuno, hanya sekedar khotbah satu arah akan sangat boros tenaga, bagi guru itu sendiri. Mungkin niat kebaikan tanpa tulus ikhlas ingin mencerdaskan anak bangsa melalui khotbah satu arah tersebut tidaklah salah, namun penting untuk memahami karakter anak yang mengikuti perkembangan zaman. Ya, mengajar menggunakan bantuan media gambar atau tulisan merupakan salah satu ikhtiar seorang guru berinovasi dalam pembelajaran. Maka sangat dianjurkan bagi para guru, atau bahkan dosen segaligus melek tekhnologi, atau jika tidak bisa mintalah bantuan pada rekan anda yang sedikit paham pada tekhnologi untuk menyiapkan materi.
  • Body Language
Dengan memanfaatkan body language yang tepat dan ekspresif sangat bermanfaat dalam memahamkan siswa terhadap materi yang disampaikan. Dengan menggunakan body language yang pas dan tepat bahkan sedikit atraktif, memudahkan siswa dalam mengembangkan imajinasinya terhadap apa yang dijelaskan oleh guru di depan. Selain itu dengan memanfaatkan body language, berfungsi dalam menarik perhatian para siswa/ siswi. Menggunakan gerakan-gerakan tubuh supaya penyampaian lebih jelas, menarik perhatian siswa serta mudah untuk diingat.
  • Teaching Motivating
Model ini merupakan model yang dikembangkan oleh jhon M. Keller, dari Florida State University pada tahun 1983-1987. Model ini pun memiliki empat strategi pokok di dalamnya untuk memotivasi pembelajaran yaitu; Attention yang berkaitan dengan pemeliharaan terhadap minat, keingintahuan, dan juga perhatian.
  • Analogy & Case Study
Teknik mengajar dengan memberikan contoh studi kasus berdasarkan hal-hal yang ada di sekitar. Dengan melakukan analogi dan studi kasus secara tepat, siswa akan mudah untuk membayangkan kegunaan materi yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari. Hindari penggunaan analogi ataupun case study yang asing bagi siswa. Karena hal itu malah justru akan semakin membingungkan para siswa menerima materi.
  • Story Telling
Mengajar dengan cara seperti orang bercerita sehingga siswa tertarik dan mudah memahami. Dengan cara ini Anda memiliki keunggulan untuk menarik interest para siswa. Dengan alur cerita yang cerdik dan apik bahkan secara tidak langsung anda dapat menghipnotis para siswa agar mereka antusias memperhatikan setiap materi yang Anda ucapkan.
  • Discussion & Feedback
Dengan melakukan diskusi akan sangat membantu dalam melibatkan siswa-siswa yang selama ini kurang aktif ketika di dalam kelas. Selain itu di tengah diskusi yang dilakukan para siswa, berilah feedback hasil dari diskusi mereka. Memberikan jawaban dengan membuat contoh yang mudah dipahami oleh siswa, juga salah satu dari feedback yang dapat dilakukan.
  • Scanning & Levelling
Memahami bahwasanya setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda, sehingga setiap siswa tidak dapat diberikan metode yang sama. Oleh sebab itu cobalah cara mengajar dengan memahami dan menyesuaikan dengan tingkat kecerdasan para siswa.
  • Applied Learning
Menggunakan metode praktek yang dicontohkan oleh guru dan kemudian dilakukan sendiri oleh siswa. Cara ini adalah pengaplikasian yang mampu untuk mempertahankan informasi yang telah di berikan pada siswa dalam memorinya.
  • Active Interaction
Mengajar sembari aktif berinteraksi dengan siswa, seperti melakukan kontak mata, mengatur nada bicara, dan lain-lain. Dengan begitu kedekatan dan ikatan emosional antara siswa dan guru juga akan terjalin dengan baik.


Sumber: http://www.psikoma.com/




05.25
thumbnail

PENGERTIAN SISTEM PENDIDIKAN FULL DAY SCHOOL (FDS)

Posted by Admin on 13 Agustus 2016

TUJUAN SISTEM PENDIDIKAN FULL DAY SCHOOL (FDS)


SISTEM PENDIDIKAN FULL DAY SCHOOL (FDS)
Pict by: Pixabay





Pengertian secara etimologis, kata Full Day School (FDS) berasal dari Bahasa Inggris. Full mengandung makna penuh, dan Day mengandung makna hari. Jadi, pengertian Full Day secara harfiah memiliki arti sehari penuh. Full Day juga memiliki pengertian hari sibuk. Sedangkan School adalah terjemahan dari sekolah. Maka, pengertian Full Day School (FDS) adalah sekolah sepanjang hari penuh atau bisa disebut dengan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dilaksanakan sejak pukul 06.45-15.00 WIB. Dengan itu maka, sekolah dapat mengatur jadwal pelajaran dengan leluasa, disesuaikan dengan bobot mata pelajaran dan ditambah dengan pendalaman materi.
05.38
thumbnail

Guru Harus Jago Praktek

Posted by Admin on 27 Mei 2016

MenPAN-RB: Guru Jangan Hanya Jago Teori





Semangat Pagi, Salam Informasi...
Seorang pengajar akan dikatakan berhasil apabila mempunyai tujuan, mampu bekerja, serta tiada mengharapkan imbalan jasa, hal itu diutarakan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Yuddy Chrisnandi.

Terlebih, seorang pendidik harus tahu kapan waktu untuk mendengarkan pendapat muridnya, memberi masukan dan nasehat, dan mau memberi pujian karena para siswa tidak hanya membutuhkan dukungan material pengetahuan tetapi juga membutuhkan dukungan emosionalnya. Guru harus memahami teori dan praktek mengajar, memiliki macam-macam strategi yang baik dalam mengajar, dan juga memiliki metode pembelajaran yang baik.
"Seorang pendidik wajib mempunyai keberanian untuk mengambil resiko. Murid dapat melihat gurunya mencoba hal-hal yang baru dan bagaimana mengatasi resiko kegagalan," urai Menteri Yuddy kala menjadi narasumber di Universitas Nasional Jakarta (UNJ).
Yuddi juga menambahkan bahwa, seorang guru tidak boleh hanya jago teori, ia wajib juga jago praktek. Akan tetapi, sikap serta perilakunya juga harus mampu menjadi panutan. Seorang guru yang sukses juga harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan para murid, termasuk perubahan-perubahan yang mungkin saja terjadi di ruang kelas.

Masih diuraikan Yuddy, kadang hal yang justru memberatkan seorang pendidik adalah dirinya sendiri. Sangat banyak, seorang pendidik baik guru maupun dosen menciptakan batasan-batasan bagi dirinya sendiri. Padahal, seorang pendidik yang baik harus mampu tahu kapan saatnya untuk menerobos atau menghancurkan batasan-batasan itu.
04.40
thumbnail

Multi Grade Teaching, Apa Maksudnya??

Posted by Admin on 29 April 2016

Multi Grade Teaching  (Pembelajaran Kelas Rangkap) Harus Diikuti Dengan Tambahan Tunjangan Gaji

Semangat Pagi, Salam Informasi...
Sebenarnya terdapat beberapa metode untuk mengatasi kurangnya jumlah guru-guru di daerah. Salah satu alternatifnya yakni dengan menerapkan metode multi grade teaching (Pembelajaran Kelas Rangkap). Apa sih yang dimaksud dengan metode multi grade teaching itu? Metode ini adalah metode dimana guru tidak hanya mengajar atau mengampu satu pelajaran saja, melainkan minimal bisa mengajar atau mengampu 2 mata pelajaran setiap harinya.

Menurut Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Kemendikbud, Anas M Adam menuturkan, dalam metode multi grade teaching, guru yang memiliki kelebihan jam mengajar karena mengajar lebih dari satu mata pelajaran, harus mendapatkan tunjangan tambahan gaji dari pemerintah daerah. Namun hal itu tidak berlaku apabila metode multi grade teaching diterapkan dikarenakan untuk memenuhi kewajiban mengajar 24 jam.
“Pemda harus memberikan tunjangan kelebihan jam mengajar kepada guru yang menerapkan metode multi grade teaching ini. Jangan sampai guru mengajar dua mata pelajaran tapi mendapatkan tunjangannya hanya satu,” ujar Anas saat di Kantor Kemendikbud, Jakarta.
Menurut Anas, kondisi mengenai kekurangan jumlah guru masih banyak ditemukan di beberapa daerah. Kekurangan jumlah guru tersebut, katanya, mayoritas terdapat di beberapa mata pelajaran tertentu, semacam sosiologi dan geografi. 
Selain itu juga, jumlah guru untuk SMK ternya masih banyak kekurangan. Akan tetapi, khusus untuk kekurangan guru di SMK itu, Anas mengatakan hal itu akan bisa diatasi dengan mendatangkan guru praktisi dan bantuan guru honorer.
“Guru produktif untuk SMK di beberapa provinsi belum cukup. Yang mengajar (SMK) adalah guru-guru honorer dan profesional, misalnya di SMK Kelautan,” tutur Anas.      
Ditambahkan lagi oleh Anas, jumlah guru untuk anak berkebutuhan khusus dan sekolah luar biasa (SLB) juga masih sangat minim. Salah satu solusi yang ditempuh adalah melakukan kerja sama dengan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). “Khususnya untuk provinsi yang memiliki LPTK yang ada jurusan Pendidikan Luar Biasa,” ujar Anas.

Harapan kami, semoga dengan diterapkannya metode multi grade teaching tersebut, juga sebanding selaras dengan diikuti kenaikan tunjangan guru. Bagaimanapun, kesejahteraan guru harus diprioritaskan mengingat beban dan tanggungjawab besar yang mereka pikul demi mewujudkan generasi 'emas' anak bangsa ini.

(Sumber: Kemdikbud)
04.46
thumbnail

Macam-macam Teori Belajar dan Pembelajaran

Posted by Admin on 18 April 2016

Behavioristik, Kognitif, dan Konstruktivisme






Kali ini kami membahas tentang teori belajar dan pembelajaran. Pengertian teori pembelajaran  pada hakikatnya merupakan turunan dari teori-teori belajar yang sudah sangat tersohor. Sebisanya, tulisan akan dibuat sekomunikatif mungkin dan tidak terlalu textbook untuk menghindari kebosanan dan mempermudah pemahaman.

Teori belajar  pada dasarnya menyediakan dasar pedagogis bagi para guru untuk memahami bagaimana cara siswa mereka belajar (Keesee, 2014). Kami akan membahas tiga teori tersebut, yaitu: Behavioristik, Koginitif, dan Konstruktivisme disertai rujukan dan pandangan menurut para ahli. 

A. Behavioristik

Pengertian teori behavioristik atau behaviorisme adalah sebuah teori mengenai perilaku manusia dan hewan yang hanya berfokus pada perilaku yang dapat diamati secara objektif. Pembahasan mengenai aktivitas mental tidak terlalu mendapat tempat dalam teori ini. Para ahli pendukung teori ini mendefinisikan belajar sebagai tidak lebih dari pemerolehan perilaku yang baru. 

Eksperimen atau percobaan yang dilakukan oleh para penganut teori ini menggunakan pengkondisian. Ia dianggap sebagai proses belajar yang universal. Terdapat dua jenis pengkondisian yang masing-masing menghasilkan pola perilaku yang berbeda. Pengkondisian tersebut masing-masing adalah pengkondisian klasik dan pengkondisian behavioral atau pengkondisian operant
  • Pengkondisian klasik terjadi ketika response atau tanggapan terhadap stimulus adalah berupa refleks alamiah. Contoh yang paling klasik digunakan adalah observasi yang dilakukan oleh Pavlov dengan menggunakan anjing sebagai objek penelitiannya. Refleks alamiah yang dicontohkan adalah ketika anjing merespons stimulus berupa makanan dengan cara mengeluarkan air liur. Menurut teori ini, manusia dan hewan pada dasarnya memiliki kemiripan biologis (biologically wired) sehingga sebuah stimulus tertentu dapat menghasilkan respons atau tanggapan yang spesifik. 
  • Pengkondisian behavioral atau operant terjadi ketika penguatan diberikan untuk mempengaruhi respons terhadap stimulus. Penguatan dapat berupa ganjaran atau hukuman (reward and punishment).  Video di bawah ini mungkin akan memberi pemahaman yang lebih mudah tentang maksud pengkondisian operant. Video ini terinspirasi oleh eksperimen yang dilakukan oleh Thorndike. 




Pada video tersebut, eksperimen dilakukan dengan media kotak teka-teki atau puzzle box dengan anjing herder (German Shepherd) sebagai objek penelitian. Kotak diberi semacam tuas untuk membuka kotak. Anjing dimasukkan ke dalam kotak dan diharapkan  dapat keluar kotak dengan menarik tuas atau pengungkit. Di sini, respons yang diharapkan adalah bahwa si anjing menarik tuas supaya keluar kotak, sedangkan stimulus dilakukan dengan memberikan makanan kesukaan si anjing. Makanan diberikan tepat pada lubang pengungkit dengan harapan membantu si anjing untuk melakukan respons berupa menarik tuas. Penguatan positif (reward) diberikan ketika si anjing keluar dari kotak tersebut berupa elusan penuh kasih sayang dari peneliti. Yang wajib dicatat, penguatan negatif tidak ditunjukkan dalam video tersebut.....hehehe. Kalau penguatan negatifnya berupa, misalnya, pukulan penuh kebencian, akan mengerikan membayangkan respons para komentator video tersebut. Dari percobaan tersebut, si anjing ternyata mampu keluar kotak dengan durasi waktu yang semakin menurun dari beberapa rangkaian percobaan. Skenario kedua dari percobaan ini adalah dengan mengunci pintu keluar sehingga si anjing tidak dapat keluar begitu saja dengan cara menarik pengungkit seperti yang sudah dilakukan pada skenario sebelumnya. Yang terjadi cukup mengejutkan. Si anjing semakin putus asa karena apa yang dilakukan sebelumnya tidak berhasil. Ia tidak bisa begitu saja keluar kotak dengan menarik tuas. Dan ini membuatnya frustrasi dan pada akhirnya tidak melakukan apa-apa. Akhirnya, peneliti mengembalikan situasi seperti pada skenario awal, yaitu kunci akhirnya dilepas. Kemudian si anjing dimasukkan lagi ke kandang. Namun hasilnya masih tetap sama. Si anjing masih berada pada situasi dimana ia tidak melakukan apa-apa. Sang peneliti pun kemudian membuka kandang dan memberi penguatan positif kepada si anjing berupa belaian penuh kasih sayang. Setelah itu, anjing dimasukkan kembali dan hasilnya mengejutkan. Si anjing keluar kotak seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya. 

Pandangan Para Ahli Pendukung Teori Behavioristik

Skinner: Beliau adalah pencetus pengkondisian operant. Cara kerjanya adalah dengan menyediakan stimulus dan diikuti oleh respons berbasis stimulus tersebut. Konsekuensi terhadap respons tersebut kemudian hadir. Penguatan disediakan, baik berupa penguatan positif atau negatif. Pada kasus video di atas, stimulus disediakan peneliti dengan memberi makanan tepat di lubang pengungkit. Respons yang diharapkan adalah penarikan tuas sebagai jalan membuka pintu kotak. Konsekuensi adalah berupa keluarnya si anjing dari "kekangan" kotak tersebut. Penguatan dilakukan oleh peneliti dengan belaian kasih sayang (penguatan positif).

Pavlov: Terkenal dengan pengkondisian klasik, dimana  reaksi spontan  terjadi secara otomatis terhadap stimulus. Keberhasilan pengkondisian klasik terjadi pada saat terjadi perubahan reaksi (yang biasanya berupa spontanitas dan alamiah) terhadap stimulus tertentu.

Thorndike: Penganut aliran pengkondisian operant. Beliau sangat terkenal dengan Hukum Akibat yang menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respons akan semakin kuat jika diberi penguatan positif (reward) dan akan semakin lemah jika diberi penguatan negatif (punishment)

Watson: Beliau percaya bahwa manusia dilahirkan dengan sedikit refleks dan reaksi emosional akan cinta dan amarah. Perilaku-perilaku yang lain dihasilkan melalui hubungan stimulus-respons melalui pengkondisian.

Penerapan Teori Behavioristik pada Pembelajaran
  • Peran peserta didik: pasif dan hanya merespons stimulus. 
  • Peran guru: merancang lingkungan pembelajaran, membentuk perilaku peserta didik dengan cara memberi penguatan (negatif atau positif), mentranfser informasi dan peserta didik menunjukkan bahwa mereka memahami isi dari informasi tersebut, menilai peserta didik dengan rangkaian ujian. 
  • Aktivitas pembelajaran: 
  1. Isyarat instruktif untuk memperoleh repons yang tepat
  2. Penguatan positif untuk respos yang tepat
  3. Membangun kefasihan, dalam arti berusaha memperoleh respons-respons yang sesuai dengan respons yang tepat
  4. Latihan dan praktik
  5. Mengingat fakta
  6. Mendefinisikan dan mengilustrasikan konsep
  7. Mengasosiasikan konsep dengan penjelasan
  8. Perantaian atau peserta didik melakukan prosedur tertentu secara otomatis
  • Pembelajaran dan Desain Instruksional: Inspirasi teori behavioristik pada pembelajaran terutama terletak pada pengembangan tujuan instruksional. Implikasinya adalah bahwa guru menganalisis situasi dan menentukan sebuah tujuan. Tugas-tugas individual diperinci dan tujuan pembelajaran dikembangkan. Evaluasi menyangkut apakah kriteria tujuan telah terpenuhi. Dengan pendekatan ini, guru menentukan apa-apa yang penting bagi peserta didik dan berusaha untuk mentransfer pengetahuan tersebut kepada para peserta didik. 
B. Kognitif
Pada dasarnya, sebuah teori akan berkembang terus menerus. Ia akan berdialektika, menemukan antitesis atau bantahan dan kemudian bisa atau tidak bisa bersintesis dengan teori yang baru. Demikian pula dengan apa yang akan kita bahas, yaitu Kognitif atau Kognitivisme. Ia merupakan antitesa dari teori behavioristik. Ia menolak keras bahwa manusia memiliki kesamaan biologis dengan hewan dalam hal merespons sesuatu atau yang kita sebut stimulus. Ia berkembang pada tahun 60-an. 

Berbeda dengan behavioristik yang sangat menekankan pada perilaku yang dapat diamati, teori ini lebih menekankan aktivitas mental seperti berfikir, memecahkan masalah, pembentukan konsep, pemrosesan informasi, dan lain sebagainya. Jika objek teori sebelumnya adalah perilaku, maka teori kognitif lebih menekankan pada objek yaitu otak. 

Fokus teori yang sedang kita bahas ini adalah mengenai bagaimana informasi diterima, dikelola, disimpan, dan digunakan kembali oleh pikiran. Jadi, ia tidak memberi perhatian pada apa yang dilakukan peserta didik atau pembelajar, namun lebih kepada apa yang mereka ketahui dan bagaimana cara memperolehnya. Inilah yang disebut dengan aktiviatas mental. 

Akan tetapi, kedua teori ini juga mempunya kesamaan dalam hal umpan balik korektif (corrective feedback). Secara sederhana, umpan balik korektif adalah evaluasi. Namun demikian, cara pandang teori behavioristik adalah pada apa yang mempengaruhi hasil belajar yang sangat dipengaruhi oleh prasyarat lingkungan belajar dan elemen instruksional. Dengan demikian, apa yang dituntut dalam peningkatan pembelajaran adalah lingkungan belajar (fasilitas belajar, suasana belajar, dll) serta elemen instruksionalnya (kurikulum, model dan metode pembelajaran, dan lain-lain). Teori kognitif memandang evaluasi dengan cara yang lebih luas. Ia menambahkan faktor-faktor seperti penerimaan informasi, pengelolaan informasi, penyimpanan informasi, dan penggunaan kembali informasi ketika dibutuhkan. Disamping itu, proses berfikir, keyakinan, sikap, dan nilai pembelajar juga dianggap sebagai determinan (faktor-faktor yang berpengaruh) penting pada pembelajaran. 

(bersambung)




21.32
thumbnail

Model Pembelajaran Komidi Putar/Carousel

Posted by Admin on 11 April 2016





Model pembelajaran ini merupakan aktivitas pengumpulan pemikiran dan informasi secara terstruktur yang dapat menghasilkan daftar ringkas pemikiran dan respons siswa secara masuk akal terhadap topik tertentu. Siswa membentuk kelompok kecil dan menyampaikan ide atau memberi saran terhadap permasalahan yang mengemuka. Para siswa juga memiliki kesempatan untuk menilai ide kelompok lain dan menggunakannya sebagai dasar untuk membentuk respons atau tanggapan mereka sendiri terhadap jawaban atas permasalahan.

Keterampilan
  • Bekerjasama dengan siswa lain
  • Berfikir, pengambilan keputusan
Cara Kerja
  1. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.
  2. Kelompok tersebut kemudian diberi kertas kosong dimana di bagian atas kertas tersebut terdapat sebuah pertanyaan yang berkaitan dengan topik tertentu. Setiap lembar kertas yang dibagikan dapat berisi sebuah pertanyaan yang berbeda. 
  3. Para siswa kemudian mengerjakan tugas dengan menuliskan tanggapan atas pertanyaan yang berada di bagian atas kertas tersebut. Pada tahap ini, guru hendaknya memberikan batasan waktu bagi tiap siswa dalam kelompok untuk  pengerjaan tugas tersebut. 
  4. Setiap kelompok diberi ballpoint atau sejenisnya dengan warna yang berbeda-beda untuk memudahkan proses identifikasi. 
  5. Setelah waktu pengerjaan usai, kertas diberikan kepada murid selanjutnya sehingga membentuk sebuah gerak lingkar seperti komidi putar. Dengan demikian, tiap siswa akan memperoleh kertas dari siswa lain dalam satu kelompok yang tentu saja berisi pertanyaan yang berlainan juga. 
  6. Siswa membaca tanggapan dari siswa lain dan mendiskusikan tanggapan tersebut. Jika setuju, mereka memberi sebuah tanda centang atau tanda lain yang menyatakan bahwa mereka setuju. Sebaliknya jika tidak setuju, mereka akan menuliskan alasan atas ketidaksetujuan tersebut. 
  7. Siswa kemudian diberi waktu untuk memberikan tanggapan mereka sendiri sekali lagi. Hal ini memungkinkan siswa untuk menggabungkan atau mensintesiskan pendapat siswa lain dengan pendapat siswa sendiri. 
  8. Komidi putar dapat terus dilanjutkan jika alokasi waktu memungkinkan. 
  9. Guru kemudian melanjutkan dengan tanya jawab. 
Catatan
Model Komidi Putar ini juga dapat digunakan sebagai alat evaluasi. Pertanyaan evaluatif dapat diajukan, sebagai contoh: apa yang sudah kamu pelajari hari ini? Hal apa yang paling mengejutkan/menarik/ berguna bagi kamu pada hari ini? Tindakan apakah yang akan kamu ambil?

Demikian kami sajikan artikel mengenai Model Pembelajaran Komidi Putar atau Carousel. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu? Terima kasih sebelumnya untuk komentarnya.
17.01
thumbnail

Model Pembelajaran Back to Back

Posted by Admin on





Jika diterjemahkan, model pembelajaran ini berarti punggung ke punggung. Disebut demikian karena ia mensyaratkan siswa untuk mengambil posisi saling memunggungi. Metode ini mendorong siswa untuk kerja bersama dan mengembangkan kejelasan dalam komunikasi dan pengamatan.

Keterampilan
  • Bekerjasama dengan siswa lain
  • Berpikir, penyelesaian masalah
Cara kerja
  1. Siswa duduk saling memunggungi. Usahakan masing-masing kursi saling bersentuhan sehingga mereka dapat saling mendengar. Usahakan pula supaya masing-masing siswa tidak menoleh ke belakang. 
  2. Siswa A menerima stimulus visual, siswa B menerima alat tulis (pensil, ballpoint, dsb) dan selembar kertas. 
  3. Siswa A menjelaskan apa yang baru saja dilihat melalui stimulus visual kepada Siswa B. Siswa B kemudian menterjemahkan apa yang dijelaskan oleh siswa A setepat mungkin dengan cara menggambar pada alat tulis dan kertas yang telah disediakan.
  4. Siswa B diperbolehkan untuk bertanya kepada siswa A terkait penjelasan yang disampaikan. 
  5. Setelah selesai, siswa A dan siswa B melakukan pencocokan terkait dengan apa yang dijelaskan dengan apa yang digambarkan. 
  6. Tanya jawab kemudian dilakukan oleh guru dan siswa, terutama penekanan terhadap hakikat berkomunikasi antar pasangan dan mengapa hasil akhir dapat menjadi atau tidak seperti yang diharapkan. 
Bapak/Ibu pernah mempraktikkan model pembelajaran tersebut? Silahkan berkomentar. 
16.37
thumbnail

Model Pembelajaran Art Spiral

Posted by Admin on





Model pembelajaran ini mendorong peserta didik untuk merefleksikan dan mengkomunikasikan pemikiran-pemikiran, ide-ide, dan perasaan mereka atas isu atau permasalahan tertentu. Secara textbook, metode ini dilakukan di luar kelas. Meskipun demikian, metode ini pun dapat dilakukan di dalam kelas. Kami mencoba mengilustrasikan metode ini jika ia dilakukan di dalam kelas.

Keterampilan: 

Menjadi kreatif, berfikir, dan pengambilan keputusan.

Cara kerja: 
  1. Papan tulis dibiarkan kosong. 
  2. Kemudian setiap peserta didik memilih ruang kosong pada papan tulis dan menggambar sesuatu yang menggambarkan pemikiran mereka terhadap topik atau permasalahan tertentu. Peserta didik juga didorong untuk menuliskan sesuatu tentang pemikiran mereka terhadap topik atau permasalahan tertentu tersebut di samping gambar yang telah dibuat. 
  3. Setelah itu, peserta didik dipersilakan duduk kembali dan dilanjutkan oleh peserta didik yang lain untuk melakukan hal serupa (no.2) 
  4. Setelah semua peserta didik mendapat giliran, guru kemudian meminta para peserta didik untuk melihat apa yang sudah dikerjakan mereka pada papan tulis. Peserta didik didorong juga untuk mengembangkan atau menambahkan apa yang sudah dikerjakan oleh teman mereka yang lain. 
  5. Kemudian guru melakukan tanya jawab kepada para peserta didik. Mereka diminta untuk kemudian mengkomunikasikan secara lisan pemikiran awal dan perasaan mereka setelah melihat gambar yang dibuat oleh semua peserta didik. 
Menurut Anda, bagaimanakah efektivitas model pembelajaran Art Spiral? Kami mengharapkan komentar Anda. Terima kasih.


10.07
thumbnail

Beragam Peran Guru Sebagai Fasilitator

Posted by Admin on



Guru Fasilitator
Guru Sebagai Fasilitator (Image by Imagebay)


Dalam lingkungan pembelajaran yang aktif, guru semestinya berperan sebagai fasilitator. Guru memberikan dukungan kepada siswa pada saat mereka belajar dan mengembangkan keterampilan. Peran serta siswa dan lingkungan pembelajaran dalam hal ini merupakan dua hal yang sangat penting.

Guru sebagai fasilitator dapat mengambil peran tertentu dalam usahanya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dalam kelas atau juga sebagai eksperimen dalam rangka menemukan pengetahuan baru dalam pembelajaran. Beberapa peran yang dapat dijalankan oleh guru antara lain sebagai berikut:
  • Fasilitator netral: Fasilitator mendorong kelompok untuk menggali sudut pandang yang berbeda tanpa memulai menyatakan pendapatnya. 
  • Pengacara Iblis (devil's advocate): Fasilitator secara sengaja menempatkan diri sebagai pihak yang berlawanan. Ia berkonfrontasi dengan tujuan mendorong peserta didik untuk mempertahankan argumentasi mereka. 
  • Deklarator sudut pandang: Fasilitator mengemukakan sudut pandangnya supaya peserta didik mengetahui sudut pandangnya. 
  • Sekutu: Fasilitator mendorong pandangan peserta didik tertentu dalam kelompok. 
  • Official View: Fasilitator memberi informasi kepada kelompok peserta didik mengenai pandangan resmi (official view) untuk permasalahan tertentu. 
  • Penantang: Fasilitator biasanya mengajukan pertanyaan kepada para peserta didik dan mendorong mereka untuk mengemukakan dan mempertahankan pendapat mereka
  • Provokator atau penghasut: Fasilitator memberikan pendapatnya, sudut pandangnya, dan informasi yang diketahuinya untuk menghasut kelas meskipun pendapat, sudut pandang dan informasinya bukanlah hal yang penting untuk dipercayai namun ia merupakan hal yang diyakini oleh peserta didik atau kelompok yang lain. Fasilitator mengemukakannya secara meyakinkan. 
  • Peran tertentu: Fasilitator dapat berperan "menjadi" orang atau tokoh tertentu (sebagai contoh, berperan sebagai rohaniwan, politisi, bupati, gubernur, atau bahkan presiden sekalipun). Ia menjelaskan argumentasinya dan memaparkan pandangannya seolah-olah ia berada pada posisi tersebut. 
Demikian peran yang dapat dijalankan oleh kita sebagai guru. Peran-peran tersebut dapat dijalankan pada saat yang bersamaan. Kita juga sering mengambil peran tertentu yang mendominasi pada saat kita mengajar.

Tentu saja peran-peran fasilitasi di atas mempunyai kelemahan dan kelebihan. Memahami kultur dan lingkungan kiranya akan dapat membantu kita untuk menerapkan peran yang tepat demi kemajuan anak didik kita.


08.52