Macam-macam Teori Belajar dan Pembelajaran

| 18 April 2016

Behavioristik, Kognitif, dan Konstruktivisme






Kali ini kami membahas tentang teori belajar dan pembelajaran. Pengertian teori pembelajaran  pada hakikatnya merupakan turunan dari teori-teori belajar yang sudah sangat tersohor. Sebisanya, tulisan akan dibuat sekomunikatif mungkin dan tidak terlalu textbook untuk menghindari kebosanan dan mempermudah pemahaman.

Teori belajar  pada dasarnya menyediakan dasar pedagogis bagi para guru untuk memahami bagaimana cara siswa mereka belajar (Keesee, 2014). Kami akan membahas tiga teori tersebut, yaitu: Behavioristik, Koginitif, dan Konstruktivisme disertai rujukan dan pandangan menurut para ahli. 

A. Behavioristik

Pengertian teori behavioristik atau behaviorisme adalah sebuah teori mengenai perilaku manusia dan hewan yang hanya berfokus pada perilaku yang dapat diamati secara objektif. Pembahasan mengenai aktivitas mental tidak terlalu mendapat tempat dalam teori ini. Para ahli pendukung teori ini mendefinisikan belajar sebagai tidak lebih dari pemerolehan perilaku yang baru. 

Eksperimen atau percobaan yang dilakukan oleh para penganut teori ini menggunakan pengkondisian. Ia dianggap sebagai proses belajar yang universal. Terdapat dua jenis pengkondisian yang masing-masing menghasilkan pola perilaku yang berbeda. Pengkondisian tersebut masing-masing adalah pengkondisian klasik dan pengkondisian behavioral atau pengkondisian operant
  • Pengkondisian klasik terjadi ketika response atau tanggapan terhadap stimulus adalah berupa refleks alamiah. Contoh yang paling klasik digunakan adalah observasi yang dilakukan oleh Pavlov dengan menggunakan anjing sebagai objek penelitiannya. Refleks alamiah yang dicontohkan adalah ketika anjing merespons stimulus berupa makanan dengan cara mengeluarkan air liur. Menurut teori ini, manusia dan hewan pada dasarnya memiliki kemiripan biologis (biologically wired) sehingga sebuah stimulus tertentu dapat menghasilkan respons atau tanggapan yang spesifik. 
  • Pengkondisian behavioral atau operant terjadi ketika penguatan diberikan untuk mempengaruhi respons terhadap stimulus. Penguatan dapat berupa ganjaran atau hukuman (reward and punishment).  Video di bawah ini mungkin akan memberi pemahaman yang lebih mudah tentang maksud pengkondisian operant. Video ini terinspirasi oleh eksperimen yang dilakukan oleh Thorndike. 




Pada video tersebut, eksperimen dilakukan dengan media kotak teka-teki atau puzzle box dengan anjing herder (German Shepherd) sebagai objek penelitian. Kotak diberi semacam tuas untuk membuka kotak. Anjing dimasukkan ke dalam kotak dan diharapkan  dapat keluar kotak dengan menarik tuas atau pengungkit. Di sini, respons yang diharapkan adalah bahwa si anjing menarik tuas supaya keluar kotak, sedangkan stimulus dilakukan dengan memberikan makanan kesukaan si anjing. Makanan diberikan tepat pada lubang pengungkit dengan harapan membantu si anjing untuk melakukan respons berupa menarik tuas. Penguatan positif (reward) diberikan ketika si anjing keluar dari kotak tersebut berupa elusan penuh kasih sayang dari peneliti. Yang wajib dicatat, penguatan negatif tidak ditunjukkan dalam video tersebut.....hehehe. Kalau penguatan negatifnya berupa, misalnya, pukulan penuh kebencian, akan mengerikan membayangkan respons para komentator video tersebut. Dari percobaan tersebut, si anjing ternyata mampu keluar kotak dengan durasi waktu yang semakin menurun dari beberapa rangkaian percobaan. Skenario kedua dari percobaan ini adalah dengan mengunci pintu keluar sehingga si anjing tidak dapat keluar begitu saja dengan cara menarik pengungkit seperti yang sudah dilakukan pada skenario sebelumnya. Yang terjadi cukup mengejutkan. Si anjing semakin putus asa karena apa yang dilakukan sebelumnya tidak berhasil. Ia tidak bisa begitu saja keluar kotak dengan menarik tuas. Dan ini membuatnya frustrasi dan pada akhirnya tidak melakukan apa-apa. Akhirnya, peneliti mengembalikan situasi seperti pada skenario awal, yaitu kunci akhirnya dilepas. Kemudian si anjing dimasukkan lagi ke kandang. Namun hasilnya masih tetap sama. Si anjing masih berada pada situasi dimana ia tidak melakukan apa-apa. Sang peneliti pun kemudian membuka kandang dan memberi penguatan positif kepada si anjing berupa belaian penuh kasih sayang. Setelah itu, anjing dimasukkan kembali dan hasilnya mengejutkan. Si anjing keluar kotak seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya. 

Pandangan Para Ahli Pendukung Teori Behavioristik

Skinner: Beliau adalah pencetus pengkondisian operant. Cara kerjanya adalah dengan menyediakan stimulus dan diikuti oleh respons berbasis stimulus tersebut. Konsekuensi terhadap respons tersebut kemudian hadir. Penguatan disediakan, baik berupa penguatan positif atau negatif. Pada kasus video di atas, stimulus disediakan peneliti dengan memberi makanan tepat di lubang pengungkit. Respons yang diharapkan adalah penarikan tuas sebagai jalan membuka pintu kotak. Konsekuensi adalah berupa keluarnya si anjing dari "kekangan" kotak tersebut. Penguatan dilakukan oleh peneliti dengan belaian kasih sayang (penguatan positif).

Pavlov: Terkenal dengan pengkondisian klasik, dimana  reaksi spontan  terjadi secara otomatis terhadap stimulus. Keberhasilan pengkondisian klasik terjadi pada saat terjadi perubahan reaksi (yang biasanya berupa spontanitas dan alamiah) terhadap stimulus tertentu.

Thorndike: Penganut aliran pengkondisian operant. Beliau sangat terkenal dengan Hukum Akibat yang menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respons akan semakin kuat jika diberi penguatan positif (reward) dan akan semakin lemah jika diberi penguatan negatif (punishment)

Watson: Beliau percaya bahwa manusia dilahirkan dengan sedikit refleks dan reaksi emosional akan cinta dan amarah. Perilaku-perilaku yang lain dihasilkan melalui hubungan stimulus-respons melalui pengkondisian.

Penerapan Teori Behavioristik pada Pembelajaran
  • Peran peserta didik: pasif dan hanya merespons stimulus. 
  • Peran guru: merancang lingkungan pembelajaran, membentuk perilaku peserta didik dengan cara memberi penguatan (negatif atau positif), mentranfser informasi dan peserta didik menunjukkan bahwa mereka memahami isi dari informasi tersebut, menilai peserta didik dengan rangkaian ujian. 
  • Aktivitas pembelajaran: 
  1. Isyarat instruktif untuk memperoleh repons yang tepat
  2. Penguatan positif untuk respos yang tepat
  3. Membangun kefasihan, dalam arti berusaha memperoleh respons-respons yang sesuai dengan respons yang tepat
  4. Latihan dan praktik
  5. Mengingat fakta
  6. Mendefinisikan dan mengilustrasikan konsep
  7. Mengasosiasikan konsep dengan penjelasan
  8. Perantaian atau peserta didik melakukan prosedur tertentu secara otomatis
  • Pembelajaran dan Desain Instruksional: Inspirasi teori behavioristik pada pembelajaran terutama terletak pada pengembangan tujuan instruksional. Implikasinya adalah bahwa guru menganalisis situasi dan menentukan sebuah tujuan. Tugas-tugas individual diperinci dan tujuan pembelajaran dikembangkan. Evaluasi menyangkut apakah kriteria tujuan telah terpenuhi. Dengan pendekatan ini, guru menentukan apa-apa yang penting bagi peserta didik dan berusaha untuk mentransfer pengetahuan tersebut kepada para peserta didik. 
B. Kognitif
Pada dasarnya, sebuah teori akan berkembang terus menerus. Ia akan berdialektika, menemukan antitesis atau bantahan dan kemudian bisa atau tidak bisa bersintesis dengan teori yang baru. Demikian pula dengan apa yang akan kita bahas, yaitu Kognitif atau Kognitivisme. Ia merupakan antitesa dari teori behavioristik. Ia menolak keras bahwa manusia memiliki kesamaan biologis dengan hewan dalam hal merespons sesuatu atau yang kita sebut stimulus. Ia berkembang pada tahun 60-an. 

Berbeda dengan behavioristik yang sangat menekankan pada perilaku yang dapat diamati, teori ini lebih menekankan aktivitas mental seperti berfikir, memecahkan masalah, pembentukan konsep, pemrosesan informasi, dan lain sebagainya. Jika objek teori sebelumnya adalah perilaku, maka teori kognitif lebih menekankan pada objek yaitu otak. 

Fokus teori yang sedang kita bahas ini adalah mengenai bagaimana informasi diterima, dikelola, disimpan, dan digunakan kembali oleh pikiran. Jadi, ia tidak memberi perhatian pada apa yang dilakukan peserta didik atau pembelajar, namun lebih kepada apa yang mereka ketahui dan bagaimana cara memperolehnya. Inilah yang disebut dengan aktiviatas mental. 

Akan tetapi, kedua teori ini juga mempunya kesamaan dalam hal umpan balik korektif (corrective feedback). Secara sederhana, umpan balik korektif adalah evaluasi. Namun demikian, cara pandang teori behavioristik adalah pada apa yang mempengaruhi hasil belajar yang sangat dipengaruhi oleh prasyarat lingkungan belajar dan elemen instruksional. Dengan demikian, apa yang dituntut dalam peningkatan pembelajaran adalah lingkungan belajar (fasilitas belajar, suasana belajar, dll) serta elemen instruksionalnya (kurikulum, model dan metode pembelajaran, dan lain-lain). Teori kognitif memandang evaluasi dengan cara yang lebih luas. Ia menambahkan faktor-faktor seperti penerimaan informasi, pengelolaan informasi, penyimpanan informasi, dan penggunaan kembali informasi ketika dibutuhkan. Disamping itu, proses berfikir, keyakinan, sikap, dan nilai pembelajar juga dianggap sebagai determinan (faktor-faktor yang berpengaruh) penting pada pembelajaran. 

(bersambung)





InformasiGuru.Com Updated at: 21.32

0 comments:

Poskan Komentar

Komentar Anda Sangat Dibutuhkan Untuk Tetap Menjalin Silaturahmi