Plus Minus Sistem Full Day School (FDS)

| 18 Agustus 2016

Pro Kontra Penerapan Sistem Full Day School (FDS)


Plus Minus Sistem Full Day School (FDS)






Selaras dengan amanat dari Presiden bahwa kondisi ideal pendidikan di Indonesia ialah ketika telah terpenuhinya dua aspek pendidikan bagi siswa. Bagi jenjang SD, 80% pendidikan karakter dan 20% untuk pengetahuan umum. Untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) agar memperoleh pendidikan karakter sebanyak 60% dan 40% sisanya adalah pengetahuan umum. Muhadjir Effendy sebagai Mendikbud yang baru kemudian merespons pesan Presiden tersebut dengan menggagas sistem belajar full day school (FDS) untuk tingkat SD dan SMP. Harapan diterapkannya sistem full day school ini adalah agar para siswa memperoleh pendidikan karakter dan pengetahuan umum di sekolah. Namun seperti biasa, selalu ada pro dan kontra dalam setiap gagasan maupun kebijakan yang akan diterapkan. Karena hal ini menandakan bahwa rakyat Indonesia sangat kritis, hal ini justru dipandang sebagai hal yang sangat positif.

Maksud dari full day school menurut Muhadjir adalah pemberian jam tambahan. Akan tetapi, pada jam tambahan ini siswa tidak akan dihadapkan dengan mata pelajaran yang membosankan. Kegiatan yang dilakukan seusai jam belajar-mengajar di kelas adalah ekstrakurikuler. Dari kegiatan ini, diharapkan dapat melatih sekira 18 karakter, beberapa di antaranya jujur, toleransi, displin, hingga cinta tanah air.
“Usai belajar setengah hari, hendaknya para peserta didik (siswa) tidak langsung pulang ke rumah, tetapi dapat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang menyenangkan dan membentuk karakter, kepribadian, serta mengembangkan potensi mereka,” kata Muhadjir.
Menurut Beliau, program full day school ini dianggap dapat membantu para guru guna mendapatkan tambahan jam mengajar sebanyak 24 jam/minggu sebagai salah satu syarat untuk lolos proses sergur. “Guru yang mencari durasi jam belajar tambahan di sekolah nanti akan mendapatkan tambahan jam itu dari program ini,” tuturnya.

Jika nantinya benar-benar diterapkan, maka dalam seminggu sekolah akan memiliki waktu libur selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu. Karenanya, hal ini akan memberi kesempatan bagi anak dan keluarganya untuk bisa berinteraksi lebih lama dan tentunya agar mempunyai kualitas waktu kebersamaan yang lebih baik daripada sebelumnya. “Peran orangtua juga tetap sangat penting. Di hari Sabtu dapat menjadi waktu keluarga. Dengan begitu, komunikasi antara orangtua dan anak tetap terjaga dan ikatan emosional juga tetap terjaga,” urai Muhadjir.

Akan tetapi, rencana ini tak lepas dari berbagai respon, baik pro maupun kontra. Pihak-pihak yang kurang setuju dengan konsep ini berpendapat bahwa tingkat konsentrasi setiap anak berbeda-beda. Bisa dikatakan, jenjang SD masih tergolong anak-anak yang mudah bosan. Selain itu, jika dilihat dari segi fisik juga kurang baik untuk kesehatan. Siswa masih butuh istirahat yang cukup di rumah agar konsentrasi juga lebih maksimal. Lantas, dari sisi sosial dan geografis, daerah pelosok kelihatannya belum cocok untuk menjalankan sistem full day school ini. Mayoritas orangtua siswa bermata pencaharian sebagai petani, nelayan, buruh, dan sebagainya. Para orangtua pun sangat membutuhkan anaknya untuk ikut membantu mereka menyelesaikan pekerjaan sepulang sekolah.

Di sisi lain, banyak juga yang mengkhawatirkan mengenai kesejahteraan guru swasta maupun honorer di Indonesia. Kisaran gaji mereka masih jauh di bawah upah minimum. Bahkan karena hal itu, banyak yang rela bekerja sambilan demi memenuhi kebutuhan hidup. Apabila full day school diterapkan, maka secara otomatis guru juga ada di sekolah secara penuh. Pemerintah harus memiliki kebijakan khusus terkait kesejahteraan para guru swasta ataupun honorer ini jika konsep full day school ini nantinya benar-benar dijalankan.

Muhadjir menanggapi berbagai respons pro dan kontra dari masyarakat ini dengan sangat positif. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat mampu dan mau mengkritisi kebijakan pemerintah sebelum diterapkan nantinya. Sampai saat ini, full day school ini masih sebatas konsep dan masih dalam proses pengkajian yang lebih mendalam. Sosialisasi masih dilakukan di berbagai sekolah, mulai pusat hingga ke daerah sembari melihat respon dari masyarakat. Input dari masyarakat juga akan menyempurnakan program pendidikan yang akan dicanangkan. Jika ternyata ditemukan lebih banyak kekurangannya, maka program ini tidak akan dipaksakan untuk diterapkan.




InformasiGuru.Com Updated at: 05.40

1 comments:

  1. Menambah wawasan dan melihat dari perspektif yg lain...thanks

    BalasHapus

Kami berterima kasih atas partisipasi Anda dengan berkomentar. Namun demikian, komentar Anda akan kami moderasi terlebih dahulu. Mohon maaf, menitipkan backlink yang tidak relevan dengan isi berita tidak akan kami tampilkan. Komentar yang menjurus SARA dan bersifat promosi juga tidak akan kami tampilkan. Salam sukses dan selamat berpartisipasi.