Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Satgas Indonesia Pintar (SIP) Untuk Pantau Distribusi KIP

Untuk Kawal Distribusi KIP, Satgas Indonesia Pintar Dibentuk




Kawal Distribusi KIP, Satgas Indonesia Pintar Dibentuk
Pict by: Pixabay





Gerakan Indonesia Pintar (GIP) menahkodai pembentukan Satgas Indonesia Pintar (SIP) dengan semangat kepedulian terhadap pentingnya pendidikan bagi pertumbuhan pembangunan Negara. GIP berkomitmen penuh untuk mendukung SIP dalam upaya menggiatkan semangat gotong royong seluruh elemen bangsa guna menyukseskan 10 Program Nawacita di Bidang PendidikanSatgas Indonesia Pintar (SIP) ini lahir dengan tujuan untuk mempercepat distribusi serta penyerapan KIP ke RTS, dan menggiatkan gerakan Sekolah Ramah Anak, serta penguatan Pendidikan Karakter.

Berdasarkan Basis Data perTahun (BDT) tahun 2015 dan sesuai validasi Kementerian sosial tahun lalu, tercatat sekitar 20,4 juta anak berusia 6-21 tahun yang berhak menjadi penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP). Kemendikbud menyeleksi ulang data tersebut sehingga menghasilkan 17,9 juta anak kurang mampu yang berhak untuk menerima KIP.

Dari jumlah itu, sebesar 97 persen KIP sudah didistribusikan ke rumah tangga sasaran (RTS). Namun kenyataan di lapangan, dari jumlah tersebut masih ada sekitar 10 persen KIP yang ternyata hanya sampai di kantor kelurahan atau balai desa saja.
“Alasannya karena tidak ada dana operasional untuk mendistribusikan. Yang kedua karena masalah pada data penerima KIP,” tutur Hamid Muhammad saat acara pendeklarasian Satgas Indonesia Pintar (SIP) di Taman Ekspresi Bogor, Jawa Barat, Minggu (21/8/2016).
Hamid turut menyatakan, permasalahan data penerima KIP juga bervariasi. Ada penerima KIP yang sudah menikah, sudah lulus sekolah, ada yang mendapat dua kartu, hingga penerima KIP yang sudah pindah atau meninggal dunia. Dikarenakan alasan-alasan inilah maka dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Indonesia Pintar ini. Selain untuk mengadvokasi permasalah yang ada, juga untuk mengadvokasi anak-anak yang dianggap layak menerima KIP tapi belum mendapat KIP.

Yanti Yulianti, Ketua Umum Gerakan Indonesia Pintar (GIP), memastikan anak-anak yang belum bersekolah bisa kembali ke sekolah dengan syarat-syarat yang bisa dilengkapi di pos pengaduan. “ Saya berharap agar deklarasi GIP ini bisa membantu mendampingi anak-anak yang selama ini belum bersekolah tetapi siap bersekolah untuk mendapatkan hak pendidikan,” tuturnya.

Acara pendeklarasian Satgas Indonesia Pintar (SIP) juga dihadiri oleh Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos, Harry Hikmat, dan Walikota Bogor, Bima Arya. Dalam acara tersebut, selain mendengarkan aspirasi dan sosialisasi mengenai KIP, juga diberikan surat edaran mengenai pendataan KIP pada Dapodik (data pokok pendidikan) ke beberapa kepala sekolah di Kota Bogor secara simbolik. Selain itu, ada juga penyerahan KIP secara simbolik kepada anak-anak yang berhak menerima.

Walikota Bogor, Bima Arya, mendukung penuh pendeklarasian Satgas Indonesia Pintar (SIP). “Saya siap untuk terus berkoordinasi beserta jajaran terkait dinas pendidikan, camat, dan lurah untuk memastikan bahwa program ini sukses menyerap 100 persen,” ujarnya.



Posting Komentar untuk "Satgas Indonesia Pintar (SIP) Untuk Pantau Distribusi KIP"