Pendidikan Berbasis Luas (BBE), Pendidikan Untuk Semua (PUS)

| 06 Agustus 2016

Mendikbud: Kembangkan Pendidikan Berbasis Luas (Broad Based  Education)


Mendikbud Kembangkan Pendidikan Berbasis Luas (BBE)
Pict by Pixabay





Inti dari Education For All (EFA) atau Pendidikan Untuk Semua (PUS) adalah mengusahakan agar setiap warga negara bisa mendapatkan haknya untuk mengenyam pendidikan. Mendikbud Muhadjir Effendy menuturkan, gerakan Education For All (PUS) yang digalang oleh PBB itu sejalan dengan konsep Broad Based Education (BBE) atau Pendidikan Berbasis Luas.

Beliau menuturkan, negara pantang membeda-bedakan atau menghambat kesempatan warga negaranya untuk memperoleh layanan pendidikan. Tetapi harus diakui, masih sangat banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kesenjangan dalam memperoleh pendidikan.

Pendidikan Berbasis Luas (BBE) itu berarti pendidikan didesain sesempurna mungkin sehingga siapapun bisa mendapatkan haknya untuk belajar,” urai Muhadjir, saat pembukaan Lomba Motivasi Belajar Mandiri (Lomojari) 2016 di Kantor Kemendikbud, Jakarta.

“Terdapat tiga tipe kesenjangan pendidikan, yaitu kesenjangan struktural, kesenjangan kultural, dan kesenjangan spasial,” jelas mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Mendikbud menambahkan, kesenjangan struktural adalah kesenjangan pendidikan yang disebabkan karena struktur kekuasaan atau kebijakan penguasa, sehingga ada masyarakat yang sangat mudah mengakses layanan pendidikan, dan ada yang sangat sulit mengaksesnya. “Contohnya negara konflik. Siapapun yang berkuasa bisa memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada temannya,” tuturnya.

Kesenjangan kultural, tuturnya, disebabkan oleh nilai budaya, di mana masih ada masyarakat tertentu yang menganggap pendidikan bukan hal yang utama, bahkan dianggap merampas sumber tenaga kerja yang dimiliki suatu keluarga karena anaknya harus membuang waktunya dengan bersekolah.

Sedangkan kesenjangan spasial adalah kesenjangan yang terjadi karena tempat atau geografi yang berbeda.

“Inilah yang akan coba kita atasi. SMP Terbuka dan SMP Satu Atap adalah salah satu bentuk usaha kita menghilangkan perbedaan akibat kesenjangan spasial itu,” tegas Mendikbud.

Beliau melanjutkan, anak-anak yang berada di kota bisa memiliki produktivitas lebih baik dibandingkan anak-anak yang berada di daerah. Dengan adanya SMP Terbuka atau SMP Satu Atap, diharapkan dapat menghilangkan jurang pemisah di antara mereka. Selain itu, pilihan lain berupa program pendidikan kesetaraan seperti program Paket B juga dapat dimanfaatkan agar warga negara bisa mendapatkan pendidikan yang setara SMP reguler. Dan yang tidak kalah penting ialah bahwa pendidikan idealnya wajib dibekali dan dilengkapi dengan keterampilan untuk siswanya. Dengan pembekalan keterampilan itu, para siswa diharapkan mampu terserap dalam dunia kerja apabila tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.


InformasiGuru.Com Updated at: 05.08

0 comments:

Poskan Komentar

Komentar Anda Sangat Dibutuhkan Untuk Tetap Menjalin Silaturahmi